SAMARINDA, Kalimantan Timur (Kaltim) akhirnya resmi menyalakan mesin pengolah sampah atau insinerator di Kampung Baqa, Jalan Hasanuddin, Kecamatan Samarinda Seberang. Langkah ini menjadi tonggak baru dalam menjinakkan bom waktu produksi sampah di Ibu Kota Kaltim yang kini menyentuh 600 ton per hari.
Peresmian yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup 2026, Selasa, 30 Juli 2026 ini sengaja digelar di lapangan, jauh dari kemewahan gedung pertemuan. Wali Kota Samarinda, Andi Harun, memimpin langsung jalannya peresmian didampingi jajaran Forkopimda dan instansi terkait.
Ada yang berbeda dalam peringatan hari lingkungan hidup kali ini. Pemerintah Kota Samarinda memilih menanam pohon di sekitar lokasi pengolahan sampah ketimbang membuat acara seremonial di dalam gedung ber-AC.
Andi Harun menegaskan, aksi menanam pohon merupakan keberpihakan nyata pemerintah bersama masyarakat terhadap ketahanan iklim, bukan sekadar simbolis di atas panggung.
"Sebagai ajakan kepada masyarakat agar salah satu cara kita berpihak secara konkret, berafirmasi terhadap ketahanan iklim kita itu ya menanam pohon, daripada sekadar kegiatan acara seremonial di dalam hotel, di gedung," kata Andi Harun di lokasi acara.
Pemilihan Kampung Baqa sebagai pusat peresmian bukan tanpa alasan. Lokasi ini menjadi perwakilan dari total 10 unit insinerator sejenis yang kini tersebar di sejumlah titik strategis di wilayah Samarinda.
Pemerintah kota ingin menunjukkan bahwa teknologi yang telah lama disiapkan ini sekarang benar-benar bekerja memangkas volume sampah langsung dari hulu.
Andi Harun merinci, satu unit insinerator mampu memusnahkan minimal 8 ton sampah per hari dalam satu shift operasional. Jika ritme kerja dinaikkan menjadi dua shift, maka volume sampah yang tereduksi bisa mencapai 16 ton.
"Jadi kalau rata-rata misalnya 16 ton dalam satu hari dikali 10, berarti kan ada 160 ton terjadi pengurangan terhadap 600 ton per hari dari jumlah total kita," papar Andi Harun dalam keterangan resminya.
Meski mesin pengolah sampah ini punya potensi besar jika dipacu hingga tiga shift, Pemkot Samarinda memilih tidak gegabah. Aspek kemanusiaan dan keselamatan para pekerja di lapangan tetap menjadi prioritas utama.
Manajemen shift ke depan akan disesuaikan dengan mengukur ketahanan fisik para petugas, meskipun penambahan jam operasional berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan pengelola.
Mengenai kesiapan operasional di 10 kecamatan, Andi Harun memastikan seluruh mesin sudah dalam kondisi siap tempur. Proses pengoperasian memang dilakukan bertahap karena kendala minor di lapangan.
"Secara bertahap, kalau mesinnya sudah siap semua cuma ada yang faktor lingkungannya misalnya ini jalan aksesnya, kalau mesinnya sudah pada siap semua," jelas Andi Harun. [RIL/ID]

















