Pranala.co, BONTANG — Pemerintah Kota Bontang menegaskan keseriusannya membangun kesehatan masyarakat dari tingkat paling dasar. Fokusnya kepada Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu.
Langkah konkret itu terlihat dari kebijakan pemberian insentif kader Posyandu. Nilainya kini menjadi yang tertinggi di Kalimantan Timur. Bahkan disebut berpotensi tertinggi secara nasional.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, Bahtiar Mabe, menegaskan kebijakan tersebut bukan sekadar soal angka. Lebih dari itu, bentuk penghargaan atas peran strategis kader sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat.
“Ini momentum untuk memperkuat komitmen kader Posyandu. Terutama dalam mendukung Integrasi Layanan Primer dan percepatan penurunan stunting di Kota Bontang,” ujar Bahtiar, Selasa (20/1/2026), di Ruang Pertemuan Tiga Dimensi.
Komitmen itu ditandai dengan penandatanganan kinerja Posyandu. Menegaskan kesiapan kader memberikan pelayanan yang berkualitas, terukur, dan berkelanjutan.
Tak berhenti pada peningkatan insentif, Pemkot Bontang juga membenahi sarana pelayanan Posyandu. Pembaruan dilakukan bertahap melalui anggaran perubahan tahun 2025.
Hasilnya, berbagai peralatan disalurkan berdasarkan pendataan kebutuhan yang dilakukan pada Mei dan Agustus 2025. Fasilitas tersebut mencakup 79 unit laptop untuk mendukung administrasi dan pelaporan kader.
Selain itu, Posyandu juga menerima alat antropometri. Mulai dari 62 timbangan bayi, 63 timbangan injak, alat ukur panjang dan tinggi badan, hingga pita pengukur lingkar lengan dan kepala.
Untuk mendukung layanan kesehatan dasar, pemerintah juga menyalurkan 78 tensimeter digital, 620 botol povidone iodine, serta ratusan masker medis.
Bahtiar menjelaskan, tingginya intensitas pelayanan membuat sejumlah alat cepat mengalami kerusakan. Bahkan, ada Posyandu baru yang belum tercatat saat pendataan awal.
“Kondisi ini menunjukkan pentingnya kalibrasi dan penggantian alat secara berkala. Semua harus sesuai standar agar hasil pengukuran akurat dan bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Ke depan, Posyandu dan Puskesmas Pembantu diharapkan dilengkapi peralatan standar sesuai pedoman Kementerian Kesehatan. Tentunya dengan tetap mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.
Penguatan layanan juga menyentuh sumber daya manusia. Sepanjang 2025, Dinas Kesehatan bersama Puskesmas telah melatih 420 kader Posyandu. Pelatihan dilakukan secara klasikal dan digital.
Para kader yang telah mengikuti pelatihan akan menjalani asesmen. Tujuannya memastikan kompetensi dan kesiapan mereka di lapangan.
“Posyandu bukan sekadar tempat menimbang balita. Di sanalah edukasi gizi, pencegahan stunting, hingga deteksi dini masalah kesehatan dilakukan,” tegas Bahtiar.
Dengan insentif tertinggi, sarana yang terus diperbarui, serta kader yang terlatih dan teruji, Pemkot Bontang optimistis Posyandu akan semakin kuat. Menjadi fondasi layanan kesehatan. Sekaligus garda terdepan dalam membangun generasi sehat dan bebas stunting. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















