Pranala.co, BONTANG — Hingga September 2025, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean B Bontang mencatat kinerja luar biasa. Realisasi penerimaan negara mereka menembus 272,8 persen dari target, dengan nilai mencapai Rp124,7 miliar.
Angka fantastis ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada kerja keras aparat Bea Cukai Bontang yang terus menjaga ritme penerimaan dari berbagai sektor. Mulai dari bea masuk, bea keluar, denda administrasi, Dana Sawit, hingga pajak ekspor-impor.
“Pencapaian ini mencerminkan meningkatnya aktivitas industri dan ekspor-impor di wilayah Bontang. Sekaligus bukti bahwa perekonomian lokal terus bergerak positif,” ujar Kepala Bea Cukai Bontang, Tri Haryono Suhud, dalam kegiatan Pemusnahan Barang Milik Negara (BMMN), Selasa (21/10/2025).
Data menunjukkan, nilai devisa ekspor Bontang hingga September 2025 mencapai USD 2,6 miliar. Sementara devisa impor tercatat sebesar USD 89,9 juta.
Produk unggulan seperti LNG, batu bara, urea, serta CPO dan turunannya menjadi motor utama penggerak neraca perdagangan. Kinerja ini menegaskan posisi Bontang sebagai salah satu pusat industri dan ekspor penting di Kalimantan Timur.
Tak hanya mendorong penerimaan negara, geliat industri di kawasan Tempat Penimbunan Berikat (TPB) juga memperkuat ekonomi lokal.
Beberapa perusahaan besar seperti PT Energi Unggul Persada dan PT Kaltim Parna Industri disebut berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja baru dan menarik investasi masuk ke Bontang.
“Industri di Bontang tidak hanya berorientasi ekspor, tapi juga berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat,” terang Tri Haryono.
Di tengah capaian penerimaan yang melesat, Bea Cukai Bontang tetap memperkuat fungsi pengawasan. Sepanjang 2024–2025, lembaga ini aktif berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bontang dan aparat penegak hukum dalam berbagai operasi gabungan.
Tujuannya jelas: mencegah pelanggaran kepabeanan serta memastikan aktivitas perdagangan berjalan sesuai aturan.
“Kami tidak hanya fokus menarik penerimaan, tapi juga menjaga agar peredaran barang tetap sesuai ketentuan hukum. Dua hal ini harus seimbang,” tegas Tri.
Capaian Bea Cukai Bontang tahun ini membuktikan bahwa lembaga ini bukan sekadar “penjaga gerbang” ekspor-impor. Lebih dari itu, Bea Cukai menjadi penggerak ekonomi daerah, pelindung masyarakat, dan bagian penting dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Kami terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik, sekaligus memastikan setiap kegiatan perdagangan memberikan manfaat bagi negara dan masyarakat,” jelas Kepala Bea Cukai Bontang, Tri Haryono Suhud. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















