ANCAMAN yang datang dari layar gawai alias ponsel kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bontang. Wali Kota Neni Moerniaeni mengingatkan bahwa jutaan anak Indonesia sudah terpapar konten pornografi, sebuah kondisi yang dinilai dapat memengaruhi perkembangan mental dan perilaku generasi muda.
Data yang disampaikan pemerintah menunjukkan sekira 40 juta dari 80 juta anak di Indonesia pernah terpapar konten pornografi. Angka itu membuat Neni prihatin, terlebih akses terhadap berbagai konten negatif kini semakin mudah dijangkau anak-anak melalui internet.
“Konten-konten seperti itu tentu berdampak pada anak, terutama dalam membentuk pola pikir dan perilaku mereka. Hal-hal yang seharusnya tabu bagi anak-anak kini semakin mudah diakses,” kata Neni usai melantik Bunda PAUD tingkat kecamatan dan kelurahan se-Kota Bontang, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, anak-anak di bawah usia 18 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif teknologi digital. Karena itu, pengawasan dari keluarga menjadi benteng utama yang tidak bisa digantikan.
Neni menegaskan bahwa penggunaan telepon seluler oleh anak tidak boleh dibiarkan tanpa kontrol. Orang tua perlu hadir, mengawasi, sekaligus menetapkan batas waktu penggunaan perangkat digital.
“Orang tua harus memberikan batasan waktu dan melakukan pengawasan terhadap penggunaan handphone. Ini penting agar anak tidak terpapar konten yang merusak,” tegasnya.
Ia menilai banyak orang tua yang belum sepenuhnya menyadari besarnya risiko di balik penggunaan internet tanpa pendampingan. Padahal, paparan konten negatif dapat memengaruhi cara berpikir, perilaku, hingga masa depan anak.
PAUD Jadi Garda Awal Pembentukan Karakter
Selain keluarga, Neni menaruh harapan besar kepada tenaga pendidik PAUD. Menurutnya, pendidikan usia dini memiliki peran penting dalam membangun fondasi karakter anak sebelum mereka memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
Ia menilai pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, perilaku positif, hingga bahaya konten negatif perlu diberikan secara bertahap dan sesuai usia anak.
“Jika fondasi anak sudah dibangun sejak dini, termasuk pemahaman tentang bahaya konten negatif, maka dampaknya bisa ditekan,” ujarnya.
Sebagai Bunda PAUD Kota Bontang, Neni menyebut guru PAUD dan pengelola lembaga pendidikan anak usia dini memikul tanggung jawab besar di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
“Peran Bunda PAUD dan guru PAUD sangat besar. Ini tugas yang berat, tetapi sangat penting untuk masa depan anak-anak kita,” katanya.
Tak hanya fokus pada pendidikan, Pemkot Bontang juga menjalankan sejumlah program untuk mendukung tumbuh kembang anak. Di antaranya penimbangan serentak dan pemberian makanan bergizi gratis bagi ibu hamil serta balita melalui Posyandu.
Program tersebut diharapkan mampu memperkuat kualitas generasi muda sejak dalam kandungan hingga masa pertumbuhan awal.
Neni optimistis berbagai langkah yang dilakukan secara bersama-sama akan memberikan dampak positif dalam jangka panjang, termasuk membantu menekan berbagai persoalan yang dihadapi anak di era digital.
“Insyaallah pertengahan Juni kita berharap ada penurunan angka, karena intervensi yang dilakukan cukup masif, termasuk program makanan bergizi gratis,” ucapnya. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















