ARUS modernisasi yang bergerak cepat bak pisau bermata dua bagi generasi muda. Di satu sisi menawarkan kemajuan, namun di sisi lain mengintai moral anak-anak jika tidak dibentengi secara kokoh sejak dari rumah.
Keluarga kini bukan sekadar tempat pulang, melainkan titik nol sekaligus benteng pertahanan terakhir dalam menjaga moral penerus bangsa. Jika fondasi di dalam rumah runtuh, mimpi besar Indonesia mencetak Generasi Emas pada tahun 2045 mendatang bisa berujung jadi ancaman kegagalan.
Kesadaran inilah yang menggerakkan Pimpinan Anak Cabang (PAC) LDII Gunung Telihan bersama Bina Keluarga Remaja (BKR) Wilis Sejahtera. Mereka mengumpulkan puluhan ibu di Kompleks Masjid Baitul Musthofa, Gunung Telihan, Bontang, untuk membedah strategi penting terkait pendidikan karakter anak, Sabtu, 4 Juli 2026 sore.
Ketua PAC LDII Gunung Telihan, Sutrisno, menegaskan bahwa tantangan zaman modern menuntut anak muda memiliki kompas moral yang kuat. Menghadirkan profesional yang andal saja tidak lagi cukup jika tidak dibarengi dengan jiwa yang religius.
Oleh karena itu, LDII menyodorkan konsep "29 Karakter Luhur" sebagai pedoman konkret yang bersumber dari Al-Qur'an dan Al-Hadits. Nilai-nilai ini mencakup Tri Sukses Generus (alim-faqih, berakhlakul karimah, mandiri) hingga 6 Tabiat Luhur seperti rukun, kompak, jujur, dan amanah.
"Karakter ini membentuk profesionalitas yang religius. Hasilnya, setiap individu bisa berkontribusi positif bagi keluarga, masyarakat, dan negara," ujar Sutrisno saat membuka acara.
Namun, nilai luhur tersebut tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa adanya ekosistem pendukung yang sehat. Di sinilah 8 fungsi keluarga dari BKKBN masuk sebagai pilar penguat ketahanan domestik.
Hadir sebagai pemateri utama, Wiandha Riesta, S.Si, membawa sudut pandang yang mendalam sekaligus menyentil realitas sosial saat ini.
Ketua BKR Wilis Sejahtera sekaligus Ketua bidang Bimbingan Konseling PC LDII Bontang Barat ini mengingatkan bahwa urusan mendidik anak kerap kali salah kaprah karena dibebankan kepada ibu sendirian.
Riesta menegaskan, lingkungan rumah adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Dalam madrasah tersebut, figur pemimpin tidak boleh absen.
"Pendidikan karakter bukan hanya tugas seorang ibu, tetapi juga ayah. Penanaman karakter luhur harus dimulai dari lingkup terkecil," tegas Riesta di hadapan 50 peserta yang hadir.
Integrasi antara 8 fungsi keluarga—mulai dari fungsi agama, cinta kasih, perlindungan, hingga pembinaan lingkungan—dengan nilai spiritual dinilai menjadi duet maut yang ampuh melahirkan keharmonisan rumah tangga.
Suasana ruang pertemuan kantor sekretariat DPD LDII Bontang sore itu mendadak hangat. Sesi interaktif dan tanya jawab menghidupkan ruang diskusi, memicu kesadaran baru di antara para ibu yang hadir.
Riesta tidak ingin materi ini menguap begitu saja sebagai teori di atas kertas. Ia mengetuk hati para peserta untuk membawa perubahan nyata begitu mereka melangkah pulang ke rumah masing-masing.
"Mari kita selaraskan ilmu yang sudah didapat dengan tuntunan agama. Saatnya kita praktikkan agar terwujud keluarga yang harmonis, dengan niat lurus menuju surga," pungkas Riesta penuh harap. (*)
















