SELAMA ini kita hanya akrab dengan istilah P3K atau pertolongan pertama pada kecelakaan fisik. Namun, di tengah kepungan cerobong pabrik dan tingginya tekanan hidup kota industri seperti Bontang, muncul satu kebutuhan baru yang mendesak: pertolongan pertama pada luka psikologis (P3LP).
Gagasan segar ini dilempar Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, drg Toetoek Pribadi Ekowati. Sambil mengetuk kesadaran publik, ia mengingatkan bahwa tidak semua penderitaan terlihat oleh mata telanjang. Justru, luka yang tersembunyi di dalam kepala sering kali jauh lebih menyakitkan.
”Luka fisik mungkin tampak besar, tapi luka psikologis sering kali jauh lebih berat karena tidak terlihat,” ujar Toetoek saat membuka sosialisasi P3LP di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Selasa (23/6/2026).
Data di lapangan menunjukkan angka yang tidak bisa dibilang sedikit. Dalam lima tahun terakhir, jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Bontang bertahan di angka 217 hingga 219 orang, mencakup kategori ringan hingga berat.
Dari ratusan kasus tersebut, sekira 72 persen atau 166 pasien memang sudah mendapatkan penanganan medis. Namun, Toetoek menegaskan angka kesembuhan di atas kertas itu belum mencerminkan pemulihan yang seutuhnya.
Secara klinis, obat-obatan bisa membuat pasien tampak tenang, tidak lagi histeris atau agresif. Sayangnya, ada mata rantai yang terputus setelah mereka keluar dari ruang perawatan rumah sakit, yaitu kembalinya fungsi sosial mereka.
”Kalau hanya diobati, mereka memang lebih tenang. Tapi apakah mereka benar-benar pulih? Belum tentu, karena rehabilitasi sosialnya belum maksimal,” jelas Toetoek.
Sesuai mandat Undang-Undang Kesehatan Jiwa, kesembuhan pasien harus berjalan seiring dengan pemulihan sosial di tengah masyarakat. Ironisnya, ego sektoral antarinstansi selama ini membuat penanganan medis dan sosial berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang padu.
Fasilitas rehabilitasi skala besar di tingkat provinsi sebenarnya menganggur tanpa pemanfaatan yang optimal. Berdasarkan catatan Diskes, baru ada satu ODGJ asal Bontang yang dirujuk ke panti rehabilitasi di Samarinda.
Melihat kondisi ini, Toetoek meminta Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial meruntuhkan tembok pembatas demi menyelamatkan kesehatan mental warga. Dinamika kota industri dengan target tinggi kerja harian menjadi pemicu utama stres yang tidak bisa diabaikan.
Ia juga melempar pesan menohok bagi para pemangku kebijakan dan pimpinan perusahaan di Bontang. Gaya kepemimpinan yang intimidatif dinilai berkontribusi merusak mental para bawahan.
“Jangan terlalu keras. Berikan ruang gerak yang nyaman bagi bawahan. Lingkungan kerja yang sehat itu investasi penting untuk menjaga kesehatan mental kita bersama,” imbau Toetoek. [FR]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















