NASIB keberangkatan kontingen Balikpapan menuju Pekan Olahraga Provinsi VIII Kalimantan Timur alias Porprov Kaltim kini berkejaran dengan waktu. Hingga saat ini, Pemerintah Kota Balikpapan belum juga mengajukan usulan anggaran untuk membiayai para atlet lokal.
Usut punya usut, mandeknya pengajuan dana ini bukan tanpa alasan. Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan mengaku masih terganjal dokumen teknis yang belum diterbitkan oleh pihak provinsi.
Kepala Disporapar Balikpapan, Ratih Kusuma, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak ingin gegabah. Penyusunan anggaran baru bisa berjalan jika petunjuk teknis (juknis) dan Technical Handbook (THB) sudah berada di tangan.
Tanpa adanya THB, mustahil bagi pemkot untuk menentukan berapa jumlah atlet, ofisial, hingga cabang olahraga yang akan bertolak ke Kabupaten Paser. Dokumen ini menjadi jangkar utama untuk menghitung kebutuhan ril di lapangan.
"Di dalam THB itu akan diketahui jadwal pertandingan dan kategori pertandingan. Dari sana kita bisa menentukan kategori mana yang akan kita ikuti," ujar Ratih.
Ratih menegaskan, koordinasi intensif terus berjalan. Disporapar sudah duduk bersama KONI Balikpapan untuk mendata atlet-atlet potensial.
Komunikasi dengan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Timur juga digenjot. Tujuannya, mendesak agar juknis dan THB segera diterbitkan.
Jika dokumen itu rampung dalam waktu dekat, Disporapar akan langsung bergerak cepat menyusun angka-angka. Targetnya, anggaran ini bisa diselipkan dalam APBD Perubahan.
"Kalau datanya sudah lengkap, baru kita tuangkan dalam bentuk anggaran. Semoga di APBD Perubahan ini bisa kita usulkan," ucapnya penuh harap.
Uang rakyat harus dihitung dengan cermat. Ratih mengakui besaran anggaran sangat elastis, bergantung pada berapa kepala yang akan diberangkatkan.
Komponen biayanya pun tidak sedikit. Pemerintah harus menanggung biaya penginapan, transportasi, akomodasi, hingga uang saku para pejuang olahraga kota minyak ini selama bertanding.
Menariknya, Balikpapan dipastikan akan menerapkan seleksi ketat. Dari total 64 cabang olahraga yang dilombakan pada Porprov VIII Kaltim, tidak semua cabang akan mendapat tiket keberangkatan.
"Tidak mungkin semuanya kita kirim. Kita juga harus menyiapkan akomodasi menuju Paser," kata Ratih. Pemkot memilih realistis dan hanya memprioritaskan cabang olahraga yang memiliki peluang besar untuk mendulang medali.
Sebagai pembanding, nafkah olahraga Balikpapan pada Porprov edisi sebelumnya menelan dana yang cukup fantastis, berkisar antara Rp15 miliar hingga Rp16 miliar. Untuk gelaran tahun ini, kepastian angka baru akan terjawab setelah teka-teki dokumen teknis dari provinsi tuntas.
Sesuai jadwal, Porprov VIII Kaltim sendiri baru akan ditabuh di Kabupaten Paser pada 14 hingga 28 November 2028. Waktu memang masih panjang, namun kepastian nasib para atlet harus ditentukan sejak dini. (*)













