Pranala.co, BONTANG – Setelah lebih dari satu dekade melayani jalur udara Bontang–Balikpapan, kerja sama antara maskapai Pelita Air dan Badak LNG resmi berakhir. Penerbangan terakhir dilakukan Senin sore (7/7/2025), menandai berakhirnya kontrak yang telah berjalan sejak 2014.
Selama 11 tahun, pesawat ATR 42–500 bernomor registrasi PK-PAX menjadi armada andalan untuk mendukung mobilitas pekerja Badak LNG. Pesawat itu melayani penerbangan rutin pulang-pergi antara Bontang dan Balikpapan.
Namun kini, rute tersebut tinggal kenangan.
Andri Saputri, Officer Media Relation Badak LNG, menyebutkan keputusan tidak memperpanjang kerja sama ini diambil setelah melalui evaluasi menyeluruh.
“Pertimbangannya karena kebutuhan operasional kami saat ini sudah berubah. Ditambah ada efisiensi dan penyesuaian strategi transportasi perusahaan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa hingga kini belum ada rencana menggandeng maskapai lain untuk layanan serupa.
Soal masa depan bandara yang selama ini digunakan, Andri mengatakan secara umum masih bisa difungsikan. Namun pemanfaatannya kini tak lagi sepenuhnya berada di bawah Badak LNG.
“Bandara tersebut merupakan aset negara, dikelola oleh Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). Jadi penggunaannya berada di bawah kewenangan mereka,” ujarnya.
Bandara milik LMAN yang terletak di kompleks Badak LNG itu sebelumnya memang dipakai secara terbatas untuk kebutuhan internal perusahaan.
Meski begitu, dengan berakhirnya kerja sama ini, masa depan pemanfaatan bandara kini bergantung pada kebijakan pemilik aset.
















