Pranala.co, BALIKPAPAN – Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia terus melonjak tajam. Situasi ini mendorong Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) meluncurkan program Ruang Bersama Indonesia di Taman Bekapai, Balikpapan, Jumat (29/8/2025).
Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan isu perlindungan perempuan dan anak tidak boleh dipandang sebelah mata.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, 49 persen penduduk Indonesia adalah perempuan. Ditambah anak-anak yang jumlahnya mencapai 38 persen. Artinya, hampir tiga perempat warga Indonesia adalah perempuan dan anak.
“Peran perempuan dan anak sangat strategis dalam pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Maka, mereka tidak boleh diabaikan,” kata Arifah.
Fakta di lapangan cukup mencengangkan. Catatan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) menunjukkan, sejak Januari hingga 14 Juni 2025, ada 11.385 kasus kekerasan. Hanya berselang dua bulan, per 24 Agustus 2025, angkanya melonjak menjadi 19.535 kasus.
“Setiap angka adalah korban nyata. Hidup mereka bisa berubah selamanya akibat kekerasan. Angka ini tidak bisa kita biarkan,” tegasnya.
Konsep Ruang Bersama Indonesia
Program Ruang Bersama Indonesia hadir sebagai kelanjutan dari Desa/Kelurahan Ramah Anak dan Perempuan. Bedanya, ruang ini lebih terintegrasi, mempermudah akses layanan, sekaligus mempercepat perlindungan bagi korban.
Awalnya, program ini bernama Ruang Bersama Merah Putih. Namun atas masukan Presiden, namanya diubah.
“Presiden menyampaikan, kabinet ke depan belum tentu bernama Merah Putih. Karena itu diputuskan namanya Ruang Bersama Indonesia,” jelas Arifah.
Balikpapan Jadi Contoh Nasional
Balikpapan dipilih sebagai lokasi peluncuran karena dianggap memiliki komitmen kuat pada program ramah perempuan dan anak.
Beberapa kelurahan di kota ini bahkan sudah lebih dulu menjalankan konsep desa ramah anak dan perempuan. Kini, konsep tersebut menjadi fondasi bagi program berskala nasional.
“Balikpapan bisa menjadi contoh daerah yang serius mendukung program nasional. Dari desa ramah anak, berkembang menjadi ruang bersama dengan semangat gotong royong,” ujar Arifah.
Peluncuran dari Balikpapan diharapkan mampu menginspirasi daerah lain. Arifah menekankan, program ini bukan sekadar seremoni, tetapi gerakan nyata agar perlindungan perempuan dan anak menjangkau hingga desa dan kelurahan.
“Jika perlindungan diperkuat dari bawah, maka visi Indonesia Emas 2045 bisa kita wujudkan bersama,” tutupnya. (sr)















