BERTAHUN-TAHUN lamanya, warga di kawasan pesisir Kutai Timur (Kutim) harus akrab dengan peliknya mendapatkan air bersih. Sumber air baku yang terbatas memaksa mereka bergantung pada pasokan air tanah yang kian hari kian menipis. Namun, fajar pemecah masalah itu kini mulai tampak di cakrawala.
Pemkab Kutim tengah menyiapkan langkah besar. Bukan lagi sekadar mengandalkan sumur bor atau tadah hujan, Pemkab berencana menyulap air laut yang mengepung wilayah mereka menjadi air bersih siap konsumsi.
Langkah ini langsung mendapat lampu hijau dan dukungan penuh dari parlemen. Ketua Komisi C DPRD Kutim, Ardiansyah, menegaskan bahwa proyek pengolahan air laut ini menjadi jawaban konkret atas jeritan masyarakat di enam kecamatan pesisir yang selama ini kesulitan air bersih. Mulai dari Kecamatan Bengalon, Kaliorang, Kaubun, Sangkulirang, Karangan, hingga Sandaran.
“Kebutuhan air bersih masyarakat, khususnya di wilayah pesisir, sudah lama menjadi perhatian serius kami. Ini adalah pemenuhan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda-tunda lagi,” ujar Ardiansyah, Senin (15/6/2026).
Guna mewujudkan mimpi besar tersebut, Pemkab Kutim tidak berjalan sendiri. Pemerintah daerah resmi menggandeng investor kakap asal China, Blue Water Green.
Perusahaan ini membawa teknologi desalinasi mutakhir berbasis Reverse Osmosis (RO), sebuah sistem penyaringan intensif yang mampu memisahkan kandungan garam dari air laut hingga menjadi air tawar berkualitas tinggi.
Titik krusial pembangunan instalasi raksasa ini sudah ditentukan. Yakni di kawasan strategis antara Desa Sekerat di Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Kaliorang. Lokasi ini dipilih agar distribusi air ke enam kecamatan pesisir bisa berjalan lebih cepat dan merata.
Meski demikian, Ardiansyah mengingatkan bahwa proyek ini tidak bisa instan. Saat ini pihak investor tengah menggodok berbagai kajian mendalam di lapangan.
“Kajiannya sedang berjalan. Mulai dari studi kelayakan teknis dan ekonomi, analisis kebutuhan air jangka panjang, dokumen AMDAL agar lingkungan tetap terjaga, hingga perencanaan detail jaringan pipa distribusinya,” jelasnya.
DPRD Kutim berjanji tidak akan menjadi penonton pasif. Sebagai perwakilan rakyat, Komisi C berkomitmen melakukan pengawalan ketat agar proyek investasi ini benar-benar berjalan sesuai target dan selesai tepat waktu.
Menariknya, dampak positif proyek desalinasi ini diproyeksikan bakal berlipat ganda. Fasilitas ini tidak hanya akan mengalir ke bak-bak mandi rumah tangga warga, tetapi juga diplot untuk menyokong kebutuhan kawasan industri dan pelabuhan pesisir Kutim yang sedang menggeliat.
Dengan begitu, ketergantungan akut warga terhadap air tanah bisa segera dihentikan sebelum membawa dampak buruk bagi ekologi pesisir. [HAF]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















