Yerusalem, PRANALA.CO — Asap hitam membumbung di langit Yerusalem, Rabu (30/4/2025) sore. Kobaran api melahap hutan di pinggiran kota suci itu, memaksa ribuan warga meninggalkan rumah dan memadati jalan raya untuk menyelamatkan diri. Dalam kepanikan itu, mobil-mobil ditinggalkan begitu saja, orang-orang berlarian menjauh dari jilatan api yang kian mendekat ke jantung kota.
Rute 1, jalan raya utama yang menghubungkan Yerusalem dan Tel Aviv, lumpuh total. Siapa pun yang ada di jalur itu hanya berpikir satu: selamatkan diri.
Kebakaran hebat ini bukan kebakaran biasa. Layanan pemadam kebakaran Israel menyebutnya sebagai salah satu yang “terbesar yang pernah ada” dalam sejarah negara itu.
Menyadari skala ancaman yang luar biasa, pemerintah Israel bergerak cepat. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mendeklarasikan situasi sebagai “darurat nasional”. Ia memerintahkan militer untuk turun langsung membantu operasi pemadaman dan evakuasi.
“Kita menghadapi keadaan darurat nasional, dan semua pasukan yang tersedia harus dimobilisasi untuk menyelamatkan nyawa dan mengendalikan kebakaran,” tegas Katz dalam pernyataannya, dikutip dari Al Arabiya dan AFP.
Sedikitnya 160 tim penyelamat dan pemadam kebakaran diterjunkan. Puluhan pesawat dan helikopter mondar-mandir di udara berupaya menahan laju api yang dipicu angin kencang dan cuaca kering.
Militer Israel, yang biasanya berjaga di perbatasan, kini sibuk membantu pencarian dan penyelamatan warga di kawasan rawan.
Situasi semakin genting. Badan penyelamat Israel, MDA, melaporkan ratusan warga sipil saat ini berisiko terdampak langsung oleh api.
Bantuan internasional pun segera diupayakan. Pemerintah Ukraina menjadi salah satu negara pertama yang mengulurkan tangan. Pesawat bantuan pemadam kebakaran dijanjikan segera tiba. Spanyol, Prancis, Rumania, Kroasia, dan Italia juga menyatakan komitmennya mengirimkan pesawat.
Rekaman televisi memperlihatkan bagaimana api melahap vegetasi di sepanjang jalan dan lereng bukit. Asap tebal membungkus sebagian wilayah, menutupi pandangan dan membuat udara di sekitarnya sulit dihirup.
Hingga Kamis (1/5/2025), api masih terus berkobar. Warga Yerusalem dan sekitarnya hanya bisa berharap — bantuan yang datang dari langit dan darat bisa segera menjinakkan si jago merah sebelum terlambat.
Pemerintah setempat meminta masyarakat tetap tenang, mengikuti instruksi evakuasi, dan menghindari wilayah yang terdampak api. “Nyawa adalah prioritas,” demikian imbauan resmi yang disampaikan. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















