NIAT baik masyarakat untuk saling membantu kembali diuji ulah oknum tak bertanggung jawab. Jagat maya di Bontang mendadak ramai setelah sebuah unggahan di Facebook terang-terangan menggalang dana dengan memanfaatkan cerita duka palsu.
Pelaku yang menggunakan akun bernama Hendra Setiawan dengan tega menarasikan kisah pilu seorang warga Kelurahan Bontang Baru yang disebut telah meninggal dunia.
Demi meyakinkan netizen, akun tersebut membeberkan alamat lengkap, kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan, hingga menyertakan nomor rekening pribadi untuk menampung donasi.
Gerak cepat pun dilakukan pihak kelurahan untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Saat dikonfirmasi, Lurah Bontang Baru, Nur Huda, memastikan bahwa seluruh narasi menyedihkan yang beredar di media sosial tersebut adalah bohong.
“Kami sudah konfirmasi ke Pak RT-nya, bahwa berita itu tidak benar dan disinyalir penipuan,” ujar Nur Huda dengan nada geram, Selasa (14/7/2026).
Pihak kelurahan tak ingin kecolongan. Begitu mendapati indikasi kuat adanya penipuan donasi online Bontang Baru, Nur Huda langsung menginstruksikan seluruh jajaran pengurus RT untuk bergerak.
Mereka menyebarluaskan klarifikasi resmi ke grup-grup WhatsApp warga demi memutus rantai penyebaran hoax tersebut. Langkah preventif ini terbukti ampuh membentengi warga agar tidak ada yang terlanjur mengirimkan uang ke rekening pelaku.
“Kami langsung sampaikan pengumuman di grup RT dan warga. Sejauh ini, beruntung kami belum menerima aduan adanya warga yang menjadi korban,” tambah Nur Huda.
Ada fakta menarik sekaligus miris dari modus operandi pelaku. Dalam unggahannya, akun Hendra Setiawan berdalih uang donasi tersebut mendesak untuk biaya pengurusan Fardu Kifayah jenazah.
Padahal, Nur Huda menjelaskan bahwa solidaritas sosial di wilayahnya sangat tinggi. Khususnya di kawasan Kampung Jawa, warga sama sekali tidak perlu pusing memikirkan biaya pemakaman jika ada anggota keluarga yang berpulang.
“Di wilayah itu sudah ada kelompok Fardu Kifayah-nya sendiri. Warga cukup menghubungi pengurus setempat, pasti langsung dibantu tanpa pungutan biaya,” urainya meluruskan fakta di lapangan.
Nur Huda pun mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tersentuh oleh unggahan yang belum jelas asal-usulnya di media sosial. Terlebih, jika unggahan tersebut sudah mulai mengarah pada permintaan transfer uang.
“Jangan mudah terpancing isu. Intinya, kalau ujung-ujungnya meminta transfer dana ke rekening tertentu, wajib kroscek langsung dulu ke lapangan. Kesimpulannya, postingan itu murni penipuan,” pungkas Nur Huda tegas.
Masyarakat diimbau untuk selalu melakukan verifikasi berjenjang ke ketua RT, bhabinkamtibmas, atau aparat kelurahan terdekat sebelum menyalurkan bantuan sosial dalam bentuk apa pun di ruang digital. (*)















