IJAZAH SMA umum ternyata masih menjadi modal utama bagi sebagian besar penduduk di Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menyambung hidup. Data terbaru menunjukkan, pasar kerja di Bumi Etam masih dikuasai oleh mereka yang hanya mengenyam pendidikan hingga bangku putih abu-abu.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat, sebanyak 27,58 persen penduduk bekerja di provinsi ini didominasi lulusan SMA. Angka ini jauh melampaui kelompok lulusan Diploma ke atas yang hanya menyentuh 18,12 persen.
Fenomena ini menjadi potret nyata bahwa lulusan SMA adalah mesin penggerak ekonomi Kaltim yang paling utama saat ini. Namun, di balik dominasi tersebut, ada bayang-bayang kerentanan yang menyertai mereka setiap hari.
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, mengungkapkan bahwa secara umum tingkat pengangguran di Kaltim memang turun tipis menjadi 5,27 persen pada Februari 2026. Artinya, dari 100 orang angkatan kerja, ada sekitar lima hingga enam orang yang masih luntung-lantung mencari kerja.
Ironisnya, saat pengangguran turun, jumlah angkatan kerja di Kaltim justru ikut menyusut sebanyak 16.850 orang. Hal ini memicu pertanyaan besar: apakah para lulusan SMA ini benar-benar terserap kerja, atau justru mulai menyerah mencari peluang?
Bagi lulusan SMA di Kaltim, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi pelabuhan utama untuk mencari nafkah. “Sektor ini tercatat menyerap hingga 390.461 pekerja atau sekitar 19,57 persen dari total penduduk bekerja,” kata Mas’ud Rifai.
Selain itu, sektor Perdagangan Besar dan Eceran juga menjadi tumpuan bagi 338.446 orang. Sektor-sektor ini memang cenderung lebih ramah terhadap syarat pendidikan menengah dibandingkan industri teknologi tinggi atau jasa keuangan.
Kabar yang cukup melegakan, struktur tenaga kerja formal di Kaltim mulai membaik. Saat ini, sebanyak 1,1 juta orang atau 55,45 persen penduduk sudah berstatus pekerja formal, naik 2,37 persen poin dibandingkan tahun lalu.
Ini berarti, ada lebih banyak lulusan SMA yang mulai mendapatkan kepastian kontrak kerja dan perlindungan hukum, alih-alih terjebak di sektor informal yang serabutan.
Namun, tantangan berat justru muncul bagi kelompok pekerja pria. BPS mencatat tingkat setengah pengangguran laki-laki mencapai 5,65 persen, jauh lebih tinggi dari perempuan.
Banyak pria lulusan SMA di Kaltim yang terjebak dalam kondisi “kerja tanggung”. Mereka bekerja, namun dengan jam kerja yang sangat minim atau tidak produktif, sambil terus memutar otak mencari kerja tambahan.
Kondisi ini diperparah dengan naiknya jumlah pekerja paruh waktu di Kaltim sebesar 0,92 persen poin. Bagi lulusan SMA, pekerjaan paruh waktu seringkali menjadi pilihan terakhir demi dapur tetap mengebul, meski penghasilannya jauh dari kata cukup.
Dominasi lulusan SMA dalam struktur ekonomi Kaltim adalah sebuah kenyataan yang tak bisa dibantah. Mereka adalah wajah asli produktivitas daerah ini, mulai dari pasar-pasar hingga ke pelosok ladang pertanian. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami














