Pranala.co, SAMARINDA — Penyelenggara Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda menaruh perhatian serius pada aspek keselamatan penerbangan. Salah satu langkah krusial yang kini dikejar adalah pemenuhan kebutuhan lahan penyangga di kawasan bandara.
Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I APT Pranoto, I Kadek Yuli Sastrawan, mengatakan pihaknya telah meminta dukungan Pemerintah Kota Samarinda terkait kebutuhan tersebut. Responsnya positif.
“Kami sudah berkomunikasi langsung dengan Pemkot Samarinda. Alhamdulillah, sambutannya baik,” ujar Kadek.
Menurutnya, pengembangan bandara tidak semata soal memperbesar terminal atau menambah jumlah penumpang. Yang utama justru memastikan seluruh standar keselamatan penerbangan sipil terpenuhi.
Lahan penyangga menjadi bagian penting dari standar itu. Tanpa ruang yang memadai, potensi gangguan atau rintangan di sekitar bandara bisa membahayakan manuver pesawat, terutama saat lepas landas dan mendarat.
“Ketersediaan lahan ini sangat krusial. Tujuannya agar operasional penerbangan bebas dari obstacle yang berisiko,” jelasnya.
Komitmen keselamatan tersebut selama ini dijalankan melalui koordinasi intensif lintas instansi. Bandara APT Pranoto bekerja sama dengan BMKG, AirNav Indonesia, serta seluruh maskapai yang beroperasi di Samarinda.
Standar yang diterapkan bersifat menyeluruh. Tidak hanya untuk penerbangan komersial berjadwal, tetapi juga penerbangan perintis seperti Smart Aviation.
“Semua penerbangan kami perlakukan sama. Standarnya tinggi, karena menyangkut keselamatan ratusan penumpang setiap hari,” kata Kadek.
Sebelum terbang, setiap awak pesawat wajib mematuhi prosedur ketat. Pilot harus memperbarui data cuaca melalui sistem resmi BMKG, termasuk laporan TAFOR, METAR, dan data angin.
Informasi teknis lain juga menjadi pegangan. Mulai dari jarak pandang, citra satelit terkini, hingga jenis awan di jalur penerbangan menuju dan dari Samarinda.
Data digital tersebut tidak berdiri sendiri. Petugas bandara di titik asal dan tujuan turut memberikan laporan visual langsung untuk membaca tren cuaca secara lebih akurat.
Jika cuaca menunjukkan perubahan signifikan, seluruh perkembangan terus dipantau melalui jalur koordinasi khusus. Tujuannya satu: mencegah risiko sekecil apa pun.
BMKG pun memiliki kewenangan penuh untuk mengeluarkan peringatan dini. Setiap potensi cuaca ekstrem segera disampaikan kepada seluruh pemangku kepentingan penerbangan.
“Langkah mitigasi sudah kami siapkan. Bisa berupa penundaan, pembatalan, holding di udara, pengalihan pendaratan, sampai return to base. Semua keputusan diambil secara profesional,” tegas Kadek. (RE)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















