Pranala.co, BONTANG — Kota ini tumbuh. Penduduk bertambah. Kebutuhan layanan kesehatan ikut meningkat. Namun satu persoalan belum juga tuntas. Jumlah dokter masih kurang.
Kota Bontang, dengan penduduk sekira 190 ribu jiwa, idealnya memiliki setidaknya 190 dokter umum. Standarnya jelas. Satu dokter melayani 1.000 warga. Itu ketentuan Kementerian Kesehatan.
Faktanya, angka itu belum tercapai. Akibatnya terasa di lapangan. Beban kerja dokter tinggi. Antrean pasien panjang. Pelayanan kesehatan pun tidak selalu bisa maksimal.
Wali Kota Bontang, Neni Moernaeni, tak menutup mata. Ia menyebut kekurangan dokter sebagai pekerjaan rumah besar pemerintah daerah.
“Kalau satu dokter harus menangani terlalu banyak pasien, tentu kinerjanya tidak bisa maksimal,” kata Neni, Senin (21/12/2025).
Menurutnya, persoalan ini bukan hanya soal jumlah. Distribusi dokter juga belum ideal. Ada tenaga medis yang menumpuk di satu titik, sementara wilayah lain kekurangan.
Sistem kapitasi ikut menjadi sorotan. Neni menilai pembagian kapitasi perlu lebih merata. Tujuannya sederhana. Agar semua dokter bisa bekerja optimal. Dan masyarakat mendapat pelayanan yang adil.
“Kita ingin pelayanan kesehatan merata, bukan hanya bertumpu pada dokter tertentu,” ujarnya.
Untuk solusi jangka panjang, Pemkot Bontang memilih langkah strategis. Pendidikan.
Pemerintah kota mendorong hadirnya fakultas kedokteran baru di Kalimantan Timur. Momentum ini dinilai tepat. Pemerintah pusat telah membuka kembali moratorium pendirian fakultas kedokteran.
Neni pun bergerak. Ia mendorong berdirinya Fakultas Kedokteran Swasta di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMMKT). Upaya itu kini membuahkan hasil.
“Alhamdulillah, sekarang sudah ada. Ini salah satu langkah untuk menjawab kebutuhan dokter yang semakin tinggi, khususnya di Kalimantan Timur,” jelasnya.
Harapannya tidak sekadar menambah jumlah lulusan dokter. Lebih dari itu, memperbaiki distribusi tenaga medis di daerah.
Agar dokter tidak hanya terkonsentrasi di kota besar. Tetapi juga hadir di wilayah yang benar-benar membutuhkan.
Neni ingin perubahan nyata. Bontang, kata dia, harus berbenah. Tidak hanya membangun jalan dan gedung. Tapi juga membangun sumber daya manusia.
“Saya ingin Bontang berbenah. Bukan hanya dari segi infrastruktur, tapi juga SDM. Terutama tenaga kesehatan,” pungkasnya. (fr)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















