Pranala.co, BONTANG – Di saat warga pusat Kota Bontang menikmati kemudahan jaringan gas rumah tangga (jargas), warga di Bontang Lestari justru masih berjibaku mencari tabung gas 3 kilogram.
Ketika stok menipis, harga ikut melambung. Tak jarang, dapur kembali mengepulkan asap kayu bakar.
“Biasanya Rp30 ribu, tapi kalau kosong bisa sampai Rp35 ribu, bahkan lebih. Berat sekali buat kami,” keluh Nurlina, warga RT 05 Bontang Lestari, Rabu (29/10/2025).
Ia berharap wilayahnya bisa segera menikmati jaringan gas rumah tangga seperti daerah lain di kota itu. “Supaya tidak lagi kesulitan setiap kali gas langka,” ujarnya penuh harap.
Masalah kelangkaan gas melon bukan hal baru di ujung selatan Bontang ini. Hampir setiap tahun, warga harus berputar dari warung ke warung mencari tabung gas. Sering kali, mereka pulang dengan tangan kosong.
Husaini, warga lainnya, mengaku sudah terlalu sering menghadapi situasi ini. “Beberapa minggu lalu gas melon susah sekali dicari. Kami keliling, semuanya kosong. Mau ke kota juga jauh,” keluhnya.
Saat gas habis mendadak, ia tak punya banyak pilihan. “Mau numpang ke keluarga sungkan, apalagi ke tetangga. Akhirnya ya pakai kayu bakar. Sudah sering seperti ini,” ujarnya pasrah.
Menurut Husaini, warga di pusat kota jauh lebih beruntung. Dengan adanya jaringan gas rumah tangga, mereka tak perlu khawatir kehabisan gas.
“Kalau sudah ada jaringan gas, tinggal bayar bulanan. Kami juga ingin begitu, biar nggak repot lagi,” katanya.
Lurah Bontang Lestari, Muhammad Akbar Aditya, membenarkan wilayahnya memang belum tersambung jaringan gas rumah tangga.
“Sampai sekarang belum ada satu pun rumah yang terpasang jargas. Kami sudah ajukan ke Pemkot Bontang, tapi belum terealisasi,” jelasnya.
Menurut Akbar, kendala utamanya ada pada infrastruktur. Pipa induk jargas belum menjangkau kawasan selatan Bontang.
“Jaraknya cukup jauh dari pusat kota, jadi butuh biaya tambahan yang besar. Sementara ini, programnya masih difokuskan di wilayah kota,” terangnya.
Padahal, minat warga sangat tinggi. Beberapa tahun lalu, pihak kelurahan sudah mengajukan data sekitar seribu rumah yang siap disambungkan ke jaringan gas.
“Waktu itu kami kumpulkan datanya. Warga sangat antusias, karena tahu sendiri susahnya kalau gas melon langka,” ungkapnya.
Meski sempat langka beberapa waktu lalu, Akbar memastikan pasokan gas kini sudah kembali normal.
“Kelangkaan kemarin memang terasa di sini. Kami sudah koordinasi untuk penambahan kuota, dan sekarang sudah stabil,” ujarnya.
Namun bagi warga, stabil saja belum cukup. Mereka ingin perubahan nyata — jaringan gas yang benar-benar mengalir ke dapur rumah mereka.
“Kalau di kota bisa punya jaringan gas, kenapa di sini belum?” tutup Husaini. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















