SUASANA setelah apel pagi di Kantor Lurah Bontang Kuala, Selasa, 7 Juli 2026 mendadak riuh. Puluhan pegawai yang baru saja membubarkan barisan tidak diizinkan langsung kembali ke meja kerja mereka.
Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang rupanya sudah bersiap di lokasi. Tanpa ada bocoran informasi sebelumnya, petugas langsung meminta seluruh aparatur kelurahan untuk menjalani tes urine mendadak.
Dari 36 pegawai yang terdaftar, sebanyak 33 orang langsung digiring untuk menyerahkan sampel urine. Tiga pegawai lainnya luput dari pemeriksaan karena sedang mengambil hak cuti resmi.
Proses pemeriksaan yang dipimpin empat personel BNN Kota Bontang sempat memicu ketegangan. Ketakutan itu terbukti saat satu sampel pegawai menunjukkan hasil positif.
Namun, petugas bergerak cepat melakukan penelusuran rekam medis. Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, meluruskan bahwa hasil positif tersebut bukan karena penyalahgunaan narkotika.
"Setelah kami telusuri, yang bersangkutan ternyata sedang dalam masa pengobatan karena riwayat penyakit tertentu," ujar Lulyana di lokasi pemeriksaan.
Lulyana menjelaskan, obat yang dikonsumsi pegawai tersebut mengandung zat benzodiazepam. Zat ini bekerja memengaruhi sistem saraf dan kerap memberikan hasil reaktif atau positif saat disaring melalui alat tes urine standar.
Langkah konfirmasi ini sengaja dibuka ke publik agar tidak memicu salah paham atau rumor liar di tengah masyarakat. BNN selalu menanyakan riwayat medis peserta sebelum tes dimulai untuk mengantisipasi faktor-faktor pengobatan seperti ini.
Sidak ini sengaja diinisiasi pihak kelurahan untuk memperingati Hari Anti Narkotika Internasional. Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah, menegaskan bahwa langkah berani ini adalah komitmen nyata, bukan sekadar seremoni di atas kertas.
"Kami ingin memulai dari diri sendiri. Kelurahan ini garda terdepan pelayanan masyarakat. Bagaimana kita bisa mengimbau warga kalau aparaturnya sendiri belum bersih?" kata Ardiansyah.
Bagi Ardiansyah, integritas dan kebersihan pegawai dari jerat narkoba berdampak langsung pada kepercayaan publik. Jika aparaturnya sehat, pelayanan kepada warga Bontang Kuala dipastikan jauh lebih profesional.
Ardiansyah berharap sidak tanpa jadwal seperti ini bisa terus digelar secara berkala ke depan. Narkoba tidak mengenal jabatan, dan pengawasan ketat adalah benteng terakhir menjaga moralitas pelayan publik. (*)
















