pranala.co - Empat pekan sudah harga telur ayam ras di pasar tradisional Kota Bontang, Kalimantan Timur. Meski begitu, tidak memengaruhi minat beli masyarakat setempat.
Salah seorang pedagang pasar Citra Mas Lok Tuan, Bontang, Salwiana mengaku minat masyarakat justru stabil saat harga telur mengalami penurunan. Sebab dirinya menjual disesuaikan dengan harga beli dari supplier. "Enggak ada sih yang beli banyak gitu. Soalnya kan telur enggak bisa tahan lama," terang Salwiah saat di temui di lapak dagangnya, Senin (20/9).Biasanya dia menjajakan telur ayam ras ukuran besar seharga Rp 50 ribu per kilogram. Namun, kini harga telur mengalami penurunan secara signifikan yakni Rp 8 ribu per piring, sehingga kini ia menjual Rp 42 ribu per piringnya.
"Kalau orang beli biasanya sepiring jarang per kilogram," ucapnya.
Penurunan harga terjadi mulai akhir Agustus lalu. Rincinya, setiap butir telur dijual Rp 1.600 untuk ukuran besar sedangkan ukuran kecil seharga Rp 1.200. "Harga telur yang kecil Rp 38 ribu sepiring, biasanya saya jual Rp 43 ribu," sambungnya.
Bilang dia, menurunnya harga telur tidak berdampak pada pendapatannya. Justru ia iba kepada peternak telur ayam. Sebab, harga pakan ayam naik lebih karena harga jagung yang tidak lagi murah, yaitu Rp 8 ribu per kilogram. Sedangkan hasil ternaknya dijual murah.
"Kasihan peternaknya, di sana (Sulawesi) sudah ada yang gulung tikar juga bahkan ayamnya pada dipotongin,"
Dikonfirmasi terpisah Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3 Bontang, Debora Kristiani mengatakan faktor penyebab anjloknya harga telur di pasaran yakni distribusi lancar dan persediaan telur banyak. Namun yang jadi problem adalah minat masyarakat tidak naik, cenderung tetap.
Meski begitu, Debora tidak menyayangkan hal tersebut, justru dirinya bersyukur harga telur turun, sebab itu yang diharapkan pihaknya. "Sebagai konsumen saya bersyukur, itu juga jadi harapan kami, jadi masyarakat tidak terbebani juga," ungkapnya. **
Penulis: Lutfi Rahmatunisa'














