Pranala.co, PANGKEP — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 14 Bontote'ne, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan alias Pangkep, menjadi perbincangan usai salah satu menu yang dibagikan kepada siswa diduga dalam kondisi tidak layak.
Peristiwa itu terjadi Sabtu (14/3/2026) dan sempat viral di media sosial. Menu yang dipersoalkan adalah kue bolu yang disebut-sebut masih mentah saat dibagikan kepada para siswa.
Salah satu guru di sekolah tersebut yang berinisial I membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebut sejumlah makanan yang dibagikan kepada siswa pada hari itu mengalami kerusakan.
"Iye benar, menunya memang banyak yang rusak pada saat Sabtu kemarin," ujarnya kepada Pranala.co saat dikonfirmasi, Minggu (15/3/2026).
Sementara itu, Kepala SD Negeri 14 Bontote'ne, Murni, mengatakan pihaknya belum dapat memberikan penjelasan detail terkait kejadian tersebut. Pada saat peristiwa berlangsung, dirinya tidak berada di sekolah.
"Untuk permasalahan kemarin, nanti besok kita klarifikasi karena kemarin saya tidak ada di sekolah, saya sedang sakit, tensiku naik," jelasnya saat dikonfirmasi media ini.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi Pranala.co masih berupaya mencari keterangan dari pihak penanggung jawab Satuan Penyelenggara Program Makan Bergizi Gratis (SPPG) yang menyalurkan program MBG ke SD Negeri 14 Bontote'ne guna memperoleh penjelasan terkait menu kue bolu yang diduga masih mentah tersebut.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Diskes) Pangkep, dr. Muhammad Ishak, menegaskan pihaknya tidak akan menoleransi adanya kelalaian dalam penyediaan konsumsi bagi siswa. Ia menyatakan teguran resmi harus disampaikan kepada pihak pengelola.
"Sekecil apa pun itu kesalahan ataupun kealpaan, maka teguran tetap harus disampaikan agar senantiasa menjamin produk MBG tetap aman dan berkualitas," ujar dr Ishak saat dikonfirmasi wartawan.
Meski demikian, pihaknya belum menerima laporan resmi terkait keluhan kue pada MBG yang diduga belum matang.
Namun, dr Ishak mengindikasikan permasalahan ini bukan terletak pada kualitas bahan baku secara umum, melainkan pada manajemen internal pengelola atau dapur produksi. Ia menduga adanya faktor keterburuan dalam proses produksi yang menyebabkan standar kematangan produk terabaikan.
"Kalau kasus ini kayaknya masalah manajemen internalnya yang harus diperbaiki. Karena mungkin terlalu terburu-buru sehingga tidak lagi terkontrol kematangannya," tambahnya. (IR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















