Pranala.co, BONTANG – Perjuangan hidup Abisar, bocah korban serangan buaya, masih berlanjut. Hingga Minggu (1/3/2026), kondisi anak tersebut kembali tidak stabil meski sempat menunjukkan tanda-tanda kesadaran beberapa jam sebelumnya. Tim medis Rumah Sakit PKT Bontang kini melakukan pengawasan ketat akibat risiko infeksi dan komplikasi luka dalam yang cukup serius.
Tante korban, Herawati, menuturkan harapan sempat muncul pada Minggu pagi ketika Abisar sadar dan kondisinya terlihat membaik. Namun, harapan itu pupus seketika. Beberapa waktu kemudian, kondisi korban kembali menurun drastis.
"Pagi sempat sadar, alhamdulillah. Tetapi tiba-tiba drop lagi. Sekarang dokter melarang dijenguk supaya dia bisa istirahat total," ujar Herawati dengan suara bergetar, ditemui di depan ruang intensif care unit (ICU) Rumah Sakit PKT Bontang, Minggu (1/3/2026).
Menurut keluarga, pada siang hari dokter kembali melakukan transfusi darah sebanyak dua kantong. Langkah ini dilakukan karena kondisi tubuh korban belum stabil akibat kehilangan darah yang cukup banyak.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan luka gigitan serius di bagian leher Abisar. Gigitan tersebut menyebabkan satu pembuluh darah besar di sisi kanan leher terputus, serta merusak jaringan saraf di sekitarnya. Luka lain juga ditemukan di bagian dada hingga perut, yang sebagian harus dijahit akibat robekan cukup dalam.
"Kalau dilihat langsung, lukanya jauh lebih parah dari yang beredar di foto. Kami saja gemetar melihatnya," ungkap Herawati dengan mata berkaca-kaca.
Tak hanya luka luar, dokter juga menemukan adanya cairan yang masuk ke dalam tubuh korban saat kejadian. Hingga kini, tim medis masih menelusuri apakah cairan tersebut masuk ke paru-paru atau ke lambung. Selain itu, ancaman infeksi bakteri dari gigitan buaya menjadi perhatian utama.
"Dokter khawatir bakteri dari gigitan masih ada. Itu yang sekarang terus dipantau," jelas Herawati.
Gigitan buaya tidak hanya berbahaya karena kekuatan rahangnya, tetapi juga karena bakteri yang terdapat di mulut hewan tersebut. Infeksi serius dapat terjadi jika bakteri masuk ke dalam aliran darah atau organ vital. Oleh karena itu, korban serangan buaya umumnya memerlukan operasi, transfusi darah, serta pengawasan intensif dalam waktu lama.
Saat ini, Abisar masih menjalani perawatan intensif dan belum diperbolehkan menerima kunjungan. Larangan ini diberlakukan demi menjaga kondisi fisik dan psikologisnya.
"Kami berharap doa dan dukungan masyarakat dapat membantu korban melewati masa kritis ini," harap Herawati. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















