Pranala.co, SAMARINDA – Wajah transportasi Kota Samarinda sedang diuji. Di satu sisi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur alias Pemprov Kaltim tengah gencar menertibkan terminal bayangan. Di sisi lain, terminal resmi justru terbengkalai.
Beberapa waktu lalu, Satpol-PP bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim menertibkan aktivitas di Terminal Bayangan Jalan APT Pranoto, Kecamatan Samarinda Seberang. Namun penertiban itu menyisakan tanya: mengapa warga justru lebih memilih terminal bayangan ketimbang terminal resmi milik pemerintah?
Terminal Sungai Kunjang sebenarnya memiliki lokasi yang strategis. Letaknya bersebelahan dengan Pelabuhan Sungai Mahakam—pintu gerbang penting menuju daerah pedalaman. Sayangnya, kondisi fisik terminal itu kini jauh dari layak.
“Dari sisi tata ruang, lokasinya ideal. Tapi kalau bicara fasilitas dan keamanan, kondisinya sudah tidak layak,” ujar pengamat kebijakan publik FISIP Universitas Mulawarman, Saipul Bachtiar, Selasa (7/10).
Menurutnya, terminal seharusnya menjadi etalase kota. Tempat pertama yang memberi kesan kepada pendatang. “Terminal itu wajah kota. Kalau terminalnya kumuh, citra kotanya juga ikut kumuh,” tegasnya.
Saipul menilai, kondisi terminal yang memprihatinkan berimbas pada perilaku masyarakat. Banyak penumpang dan sopir enggan masuk terminal karena tidak nyaman. Akibatnya, mereka memilih naik dan turun di pinggir jalan atau di terminal bayangan.
“Kalau terminalnya tidak representatif, wajar orang menghindar. Mereka cari tempat yang lebih nyaman,” ujarnya.
Ia menyarankan agar pemerintah tidak sekadar melakukan perbaikan ringan, tetapi membangun ulang terminal dengan konsep modern. Terminal baru harus memiliki ruang tunggu ber-AC, area kuliner bersih, kios tertata, dan fasilitas parkir yang aman.
“Bukan sekadar direhab. Bangun baru sekalian. Jadikan ikon baru Kota Samarinda,” katanya.
Warga Lebih Nyaman di Terminal Bayangan
Pandangan Saipul senada dengan suara masyarakat di lapangan. Salah satunya datang dari Mistoadi, sopir bus sekaligus Ketua RT 37 Kelurahan Sungai Keledang. Ia mengaku, banyak penumpang lebih nyaman menggunakan terminal bayangan di Jalan APT Pranoto dibandingkan Terminal Sungai Kunjang.
“Masyarakat senang ke sini karena fasilitasnya lengkap. Ada penitipan motor, WC bersih, parkir aman. Kalau di Terminal Sungai Kunjang, itu semua enggak ada,” ujarnya.
Menurut Mistoadi, angkot pun jarang yang melintas ke Terminal Sungai Kunjang, membuat akses penumpang semakin sulit. “Kalau dari arah sini, susah ke sana. Makanya orang lebih pilih terminal bayangan,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan, sistem keberangkatan di terminal bayangan sudah tertata. Setiap sepuluh menit satu bus berangkat ke Balikpapan dengan minimal 15 penumpang. Jika kurang, penumpang dialihkan ke bus berikutnya.
“Enggak ada yang numpuk atau sembarangan berhenti. Semua sudah diatur antar-sopir,” katanya.
Mistoadi berharap pemerintah tidak hanya menertibkan, tetapi juga memperbaiki pelayanan di terminal resmi agar masyarakat tak lagi mencari alternatif.
“Kalau terminal resmi dibenahi, orang pasti balik ke sana. Tapi kalau di sana rawan kehilangan motor dan WC-nya rusak, ya orang enggak mau,” tegasnya.
Lemahnya Political Will Pemerintah
Saipul menilai, lambannya revitalisasi Terminal Sungai Kunjang bukan karena kendala teknis, melainkan minimnya kemauan politik (political will) dari pemerintah daerah.
“Bontang dan Kutai Timur sudah punya terminal baru yang modern. Di Samarinda, justru tertunda terus. Padahal ini ibu kota provinsi,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan terminal bukan sekadar proyek fisik, tetapi wujud pelayanan publik yang bermartabat. Terminal harus menampilkan ciri khas Kaltim dan terintegrasi dengan pelabuhan Sungai Mahakam.
“Kalau kita lihat di Pulau Jawa atau Batam, terminal dan pelabuhan sudah terintegrasi dengan rapi. Kaltim seharusnya bisa lebih baik dari itu. Orang datang ke Samarinda harusnya bangga,” tutup Saipul. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















