Samarinda, PRANALA.CO — Laut tak hanya menyimpan hasil tangkapan, tetapi juga bahaya yang tak terlihat. Di Kalimantan Timur, ancaman itu datang dari makhluk yang nyaris tak bersuara: ular laut. Gigitan kecilnya bisa mematikan. Dan Kementerian Kesehatan kini angkat bicara.
Dokter Tri Maharani, Ketua Kajian Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun Kemenkes, mengingatkan masyarakat Kaltim—terutama nelayan dan pekerja pesisir—untuk tidak menyepelekan ular laut. Dalam diskusi virtual bersama Dinas Kesehatan alias Diskes Kaltim, Jumat (18/4/2025), Tri menyampaikan fakta yang mencemaskan: bisa ular laut di wilayah ini berbeda dan lebih mematikan dibandingkan daerah lain.
"Berkaca pada kasus kematian akibat gigitan ular laut di Samarinda beberapa waktu lalu, saya menekankan pentingnya identifikasi dini dan penanganan yang tepat," katanya.
Tri memaparkan bahwa penanganan gigitan ular laut di Kaltim tidak bisa disamakan dengan standar umum yang digunakan di Pulau Jawa. “Venom-nya lebih kompleks. Nggak cukup satu antivenom,” jelasnya. Dalam kasus-kasus berat, pasien bahkan bisa tak tertolong hanya karena keterlambatan penanganan dan kurangnya pasokan serum penawar.
Karena itu, ia meminta Diskes Kaltim untuk segera berkoordinasi dengan Bio Farma atau langsung ke Kemenkes guna memastikan ketersediaan antivenom yang cukup. Distribusi harus dipercepat, apalagi ke wilayah yang sulit dijangkau.
Tak hanya soal pasokan, Tri juga menyoroti kesiapan tenaga kesehatan. Ia menyarankan para nakes memperdalam pengetahuan tentang gigitan ular melalui buku panduan resmi dari Kemenkes. "Penanganan kasus seperti ini tak boleh dilakukan dengan coba-coba," tegasnya.
Selain penanganan pascagigitan, upaya pencegahan juga menjadi sorotan. Tri menyayangkan masih rendahnya kesadaran penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di kalangan petani dan nelayan. Sarung tangan, sepatu bot, hingga pelindung kaki adalah perlengkapan sederhana yang bisa menyelamatkan nyawa.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak beraktivitas sendirian di tempat berisiko seperti hutan dan pesisir. "Kalau masuk semak, naik perahu malam-malam, atau menyusuri batuan di laut, pastikan ada teman dan alat penerangan," katanya.
Satu hal lagi yang sering diabaikan: ular yang sudah mati pun masih bisa berbahaya. "Jangan main-main dengan kepala atau taring ular yang baru mati. Kantong bisanya bisa masih aktif," ujarnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















