Pranala.co, BONTANG — Ombak di Pelabuhan Lok Tuan tak hanya membawa muatan ekonomi, tapi juga potensi bahaya. Setelah kasus besar penyelundupan 44 kilogram sabu terungkap di Pelabuhan Nusantara Parepare beberapa waktu lalu, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang bergerak cepat. Mereka tak ingin laut Bontang menjadi jalur gelap baru bagi peredaran narkoba.
Sebagai langkah antisipasi, BNNK Bontang bersama PT Laut Bontang Bersinar (LBB) menggelar Rapat Koordinasi Program P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika) di Pelabuhan Loktuan, Kamis (16/10/2025).
Rapat itu dihadiri berbagai pihak. Mulai dari Polri, TNI AL, KSOP, PT Pelni, APBMI, hingga Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM). Semua sepakat dalam satu suara, pelabuhan tak boleh menjadi pintu masuk narkoba.
Kepala BNNK Bontang Lulyana Ramdani menjelaskan, pelabuhan merupakan gerbang besar perdagangan laut. Setiap hari, puluhan kapal keluar-masuk membawa kontainer, bahan pokok, hingga sayuran dari berbagai daerah.
“Volume barang yang besar membuat pemeriksaan menyeluruh sulit dilakukan. Sementara fasilitas dan anggaran pengawasan masih terbatas,” ungkapnya.
Menurut Lulyana, jalur laut kerap luput dari pengawasan ketat dibanding bandara atau jalur darat. Padahal, di situlah banyak penyelundupan terjadi.
“Bisa saja barang haram disembunyikan di antara tumpukan kargo. Karena itu, kita perlu sistem pengawasan yang lebih kuat dan berkelanjutan,” tegasnya.
Selain memperkuat pengawasan, BNNK Bontang menilai edukasi publik juga penting. Saat ini, masih sedikit spanduk atau baliho bertema bahaya narkoba di area pelabuhan, ruang tunggu, dan kapal penumpang. Padahal, hal sederhana seperti itu bisa membangun kesadaran masyarakat.
“Langkah paling kecil yang bisa dilakukan adalah memasang spanduk peringatan. Itu sudah kami mulai lakukan,” kata Lulyana.
Apalagi, Pelabuhan Lok uan kini sedang bersiap menjadi motor ekonomi baru di pesisir Bontang. Pemerintah berencana membuka rute pelayaran baru Bontang–Mamuju dan Bontang–Surabaya. Namun, makin sibuk aktivitas pelabuhan, makin tinggi pula risiko penyalahgunaan jalur laut.
“Kalau tidak kita antisipasi sejak awal, ancamannya bisa lebih besar,” ujar Lulyana mengingatkan.
Dari hasil rapat tersebut, disepakati pembentukan Satgas P4GN Pelabuhan Loktuan. Satuan tugas ini akan melibatkan unsur TNI, Polri, Bea Cukai, KSOP, PT Pelni, dan beberapa instansi lainnya.
Satgas ini akan bertugas melakukan patroli rutin, razia gabungan, dan edukasi berkala bagi pekerja pelabuhan. Selain itu, peserta rapat juga mengusulkan pemasangan alat pendeteksi modern seperti X-ray, metal detector, dan CCTV untuk memperketat pemeriksaan barang bawaan dan kargo.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen besar BNN: Menjaga Laut dari Lintasan Gelap Narkoba.
“Pencegahan bukan hanya tugas aparat, tapi tanggung jawab kita semua. Laut harus tetap jadi jalur kehidupan, bukan jalur kematian akibat narkoba,” tegas Kepala BNNK Bontang, Lulyana. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















