Pranala.co, BONTANG – Angka stunting di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan tren penurunan sepanjang 2025. Data resmi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah balita stunting turun dari 1.754 anak atau 17,44 persen pada Operasi Timbang Mei 2025 menjadi 1.523 anak atau 15,69 persen pada Operasi Timbang November 2025.
Penurunan sebesar 231 anak itu menjadi indikator bahwa berbagai intervensi yang dilakukan mulai menunjukkan hasil. Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Bahtiar Mabe, menegaskan bahwa angka tersebut merupakan data resmi yang telah dipublikasikan dan dapat diakses secara nasional.
“Kami sepakat bahwa data inilah yang menjadi rujukan saat disampaikan ke publik, karena sudah dirilis BPS dan dibaca secara nasional,” ujar Kepala Diskes Bontang, Bahtiar Mabe.
Bahtiar menyebut, penurunan angka stunting tidak terlepas dari kerja bersama lintas sektor. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader posyandu, hingga dunia usaha terlibat dalam upaya pencegahan dan penanganan.
Salah satu perusahaan yang berkontribusi adalah PT Pama Persada. Perusahaan tersebut telah melaporkan program dukungan pencegahan stunting kepada Dinas Kesehatan.
Program yang dijalankan tidak hanya bersifat bantuan pangan, tetapi juga edukasi. PT Pama Persada akan menghadirkan literasi stunting dengan melibatkan dokter spesialis anak dan psikolog. Selain itu, perusahaan menyediakan Pangan Diet Khusus (PDK) sesuai standar kesehatan.
“PDK diberikan kepada anak-anak yang belum stunting tetapi sudah mendekati kondisi stunting, termasuk yang mengalami wasting dan underweight. Tujuannya agar tidak berkembang menjadi stunting,” jelas Kepala Diskes Bontang, Bahtiar Mabe.
Intervensi juga menyasar ibu hamil dan perempuan usia subur di lima kelurahan wilayah Bontang Selatan. Langkah ini dinilai penting karena pencegahan stunting idealnya dilakukan sejak sebelum kehamilan hingga masa 1.000 hari pertama kehidupan anak.
“Tujuannya jelas, agar anak-anak dan calon ibu yang berisiko bisa dicegah lebih awal dan tidak jatuh pada kondisi stunting,” katanya.
Pemerintah Kota Bontang berharap sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha terus diperkuat agar tren penurunan dapat dipertahankan bahkan dipercepat.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, sebelumnya menyampaikan target ambisius pemerintah daerah. Pada 2026, prevalensi stunting ditargetkan turun hingga 12,5 persen.
Target tersebut diharapkan membuat Bontang mampu menyamai, bahkan melampaui capaian Kabupaten Kutai Kartanegara yang saat ini berada di kisaran 14 persen.
“Pokoknya 2026 ini kita harus bisa menyamai Kukar. Target kita turun ke 12,5 persen. Sekarang kita memang masih peringkat tiga di Kalimantan Timur, tapi optimistis bisa turun ke dua digit,” ujarnya beberapa waktu lalu. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















