Pranala.co, BONTANG – Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) mulai bergerak menekan boros pangan. Pemerintah kota, melalui Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3), meluncurkan gerakan Food Bank.
Arah geraknya, mengubah cara pandang masyarakat terhadap makanan berlebih. Dari yang semula dibuang, menjadi sesuatu yang dimanfaatkan.
Gerakan ini menjadi program prioritas Pemkot Bontang. Kepala DKP3, Ahmad Aznem menyebut banyak makanan layak konsumsi yang selama ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Padahal makanan itu masih bisa membantu banyak orang.
“Yang kita donasikan itu makanan layak. Bukan sisa,” ujar Aznem, didampingi Kabid Ketahanan Pangan Debora Kristiani, Jumat (14/11/2025).
“Banyak makanan sebenarnya masih bisa dimanfaatkan untuk panti asuhan atau masyarakat yang membutuhkan. Sayang kalau langsung jadi sampah.”
Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memperkuat keprihatinan itu. Sebanyak 40 persen sampah yang masuk TPA adalah sampah pangan. Dalam setahun jumlahnya mencapai 15 ribu ton. Angka yang cukup untuk menjadi alarm bahwa pola konsumsi masyarakat harus berubah.
Food Bank tidak hanya bicara donasi makanan layak. Gerakan ini juga mendorong agar makanan yang sudah tidak layak tetap bisa bernilai guna. Bisa jadi pakan ternak. Bisa untuk ikan. Bisa diolah menjadi maggot yang kemudian dipakai lagi sebagai pakan. Bahkan bisa berubah menjadi kompos untuk urban farming.
Aznem menegaskan, pengurangan sampah pangan tak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Butuh banyak tangan. Perguruan tinggi. Perusahaan. Hotel. Restoran. Komunitas. Semua harus bergerak.
“Ini gerakan bersama. Bagaimana kita bisa stop boros pangan. Makanan layak kita donasikan, sisanya kita manfaatkan,” tegasnya.
Beberapa perusahaan mulai turun tangan. Salah satunya PKT, melalui anak usahanya, yang berkomitmen menyalurkan makanan layak ke program Food Bank. DKP3 mengambil peran sebagai penghubung antara penyumbang dan penerima agar distribusinya berjalan lancar.
DKP3 juga berencana menggandeng penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG). Harapannya, makanan layak konsumsi yang tidak tersentuh bisa dikumpulkan kembali untuk dimanfaatkan.
Namun urusan sampah pangan tak cukup hanya dengan mengelola makanan. Edukasi menjadi kunci. DKP3 bersama PKK dan DWP akan menggelar kampanye masif: stop boros pangan dan belanja bijak. Ajakan sederhana namun penting—membeli secukupnya, menghabiskan makanan, dan kreatif mengolah bahan yang ada.
Banner imbauan juga akan dipasang di rumah makan dan titik publik. Tujuannya satu: membuat pesan pengurangan sampah pangan lebih mudah dibaca, lebih mudah diingat.
“Belanja bijak itu penting. Jangan sampai membeli banyak tapi tidak dimanfaatkan,” kata Aznem.
Food Bank mulai diluncurkan akhir tahun lalu. Tahun ini kolaborasinya diperkuat. DKP3 berharap volume sampah makanan di TPA bisa turun signifikan. Tapi lebih dari itu, mereka ingin menghadirkan budaya baru di Bontang: **menghargai makanan sejak dari sumbernya**.
“Setiap makanan yang terselamatkan bukan hanya mengurangi sampah. Tapi juga menjadi berkah bagi mereka yang membutuhkan,” tutup Aznem. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















