JAKARTA, Pranala.co - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup meski ketegangan militer di kawasan Timur Tengah meningkat.
Menurutnya, jalur pelayaran strategis tersebut tetap dibuka bagi kapal-kapal dari negara yang mematuhi protokol lalu lintas yang ditetapkan Iran, terutama dalam situasi konflik.
Pernyataan tersebut disampaikan Boroujerdi saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).
Boroujerdi menjelaskan bahwa kapal dari negara yang tidak terlibat dalam serangan terhadap Iran tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama mematuhi aturan keamanan yang berlaku.
“Tentu negara-negara yang tidak bekerja sama dengan pihak musuh, dan mereka yang mematuhi protokol lalu lintas dari Selat Hormuz, khususnya pada saat perang, mereka bisa melewati Selat Hormuz,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut dua kapal asal Indonesia telah diizinkan melintasi jalur tersebut tanpa hambatan.
Meski demikian, Iran menegaskan bahwa pengawasan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap diperketat untuk menjaga keamanan nasional, terutama di tengah meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Jika ini tidak aman bagi kami, maka tidak aman bagi semuanya. Protokol lalu lintas di Selat Hormuz pada saat perang tetap mengizinkan kapal-kapal untuk lewat,” kata Boroujerdi.
Dalam kesempatan itu, Boroujerdi juga menyinggung serangan yang menurutnya masih terus dilancarkan oleh pihak yang ia sebut sebagai musuh Iran.
Ia menilai sejumlah serangan tersebut menyasar kawasan sipil, termasuk rumah warga, fasilitas umum, dan tempat publik lainnya.
“Iran akan terus melawan dan menyerang. Kami tidak akan kompromi dengan pihak musuh,” tegasnya.
Menurut Boroujerdi, Iran menganggap penting memberikan respons tegas terhadap serangan tersebut agar pihak yang menyerang dapat memahami konsekuensi dari konflik yang terjadi.
Pernyataan itu disampaikan Boroujerdi setelah menghadiri kegiatan santunan kepada sekitar 200 siswi Muslim Indonesia di Jakarta. Kegiatan tersebut digelar untuk mengenang korban serangan yang terjadi di Iran.
Ia menyebut serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu telah menargetkan sejumlah lokasi di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Serangan tersebut juga disebut menghantam sebuah sekolah di Minab, wilayah Provinsi Hormozgan.
Akibat serangan itu, ratusan warga sipil dilaporkan menjadi korban, termasuk 175 siswi dari Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh. Selain itu, lebih dari 95 anak lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Boroujerdi menilai peristiwa tersebut sebagai serangan yang menargetkan fasilitas sipil dan menimbulkan korban di kalangan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa Iran akan terus menjaga keamanan wilayahnya sekaligus memastikan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz tetap berjalan dengan pengawasan sesuai protokol yang berlaku. (ANT/RE)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















