Pranala.co, TEL AVIV - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam. Iran meluncurkan serangan rudal besar-besaran ke wilayah Israel, Sabtu (28/2/2026), sebagai respons atas serangan pendahuluan yang sebelumnya dilakukan Israel bersama Amerika Serikat.
Sirene peringatan serangan udara terdengar di berbagai wilayah Israel, terutama kawasan tengah dan utara negara tersebut. Warga diminta segera mencari perlindungan di bunker dan fasilitas keamanan yang telah disiapkan pemerintah.
Media Israel, Jerusalem Post, melaporkan sedikitnya 125 rudal ditembakkan Iran dalam gelombang serangan awal. Dari jumlah tersebut, sekitar 35 rudal dilaporkan sempat memasuki wilayah udara Israel, sementara sisanya berhasil dicegat sistem pertahanan udara.
Salah satu rudal dilaporkan menghantam wilayah Israel utara. Informasi dari layanan darurat Magen David Adom (MDA) menyebutkan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, pecahan rudal dilaporkan menghantam sebuah gedung bertingkat hingga menembus lantai ke-17.
Selain kerusakan bangunan, sejumlah warga mengalami luka ringan saat bergegas menuju tempat perlindungan, serta gangguan kecemasan akibat situasi darurat yang berlangsung berulang sepanjang hari.
Pemerintah Israel segera menetapkan status darurat nasional. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan penutupan sekolah, penghentian aktivitas kerja non-esensial, serta larangan pertemuan publik.
Sejumlah pasien rumah sakit bahkan dipindahkan ke fasilitas bawah tanah guna mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan.
Otoritas Israel juga mengandalkan sistem peringatan nasional yang terintegrasi untuk mengarahkan warga menuju tempat perlindungan bom yang tersebar di berbagai kota.
Meski demikian, laporan awal menunjukkan dampak kerusakan fisik dan korban masih relatif terbatas pada fase awal serangan.
Tidak hanya Israel, Iran juga mengonfirmasi serangan terhadap sejumlah target yang berkaitan dengan kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Arab.
Kantor berita Fars melaporkan sasaran mencakup wilayah Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab, negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim seluruh target militer Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah telah menerima “hantaman kuat” dari rudal yang diluncurkan.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi meluasnya konflik regional menjadi perang terbuka berskala besar.
Di sisi lain, dampak serangan sebelumnya yang dilakukan Israel di wilayah Iran juga mulai terungkap. Kantor berita resmi IRNA melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan terhadap sebuah sekolah dasar perempuan di Kota Minab, Iran selatan, meningkat menjadi 51 orang, dengan sedikitnya 60 lainnya mengalami luka-luka.
Pejabat setempat, Mohammad Radmehr, menyebut sekitar 170 pelajar berada di lokasi saat serangan terjadi. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, sehingga jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah.
Konflik terbaru ini memperpanjang ketegangan yang telah berlangsung sejak tahun lalu, ketika Israel dan Iran terlibat perang udara selama 12 hari. Konflik tersebut menewaskan lebih dari 30 orang di Israel dan lebih dari 900 orang di Iran.
Pengamat menilai, rangkaian serangan balasan yang kini terjadi berpotensi menyeret lebih banyak negara di kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran konflik.
Hingga Sabtu malam waktu setempat, situasi keamanan masih sangat dinamis. Kedua pihak belum menunjukkan tanda-tanda meredakan ketegangan, sementara masyarakat internasional terus menyerukan deeskalasi guna mencegah krisis kemanusiaan yang lebih luas. (RED)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















