BONTANG, Pranala.co — Hasil Survei Perilaku Remaja Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2025 mengungkap sejumlah persoalan yang dihadapi generasi muda, mulai dari kecemasan hingga munculnya perilaku berisiko. Temuan ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bontang dalam merumuskan langkah penanganan ke depan.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pemaparan hasil survei di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota, Rabu (8/4/2026). Kegiatan ini turut dihadiri jajaran pemerintah daerah, termasuk Asisten Perekonomian dan Pembangunan serta para kepala sekolah.
Dalam sambutannya, Neni menegaskan bahwa hasil survei tersebut menjadi dasar penting untuk memahami kondisi riil remaja di Bontang. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi besar yang harus dijaga dan dikembangkan secara optimal.
“Potensi anak itu ibarat sebutir biji. Jika dirawat dan dipelihara dengan baik, maka akan tumbuh menjadi sesuatu yang bermanfaat di masa depan,” ujarnya.
Namun demikian, hasil survei juga menunjukkan adanya persoalan yang tidak bisa diabaikan. Sejumlah remaja di Bontang dilaporkan mengalami kecemasan dan ketakutan berlebih. Selain itu, mulai muncul berbagai perilaku berisiko yang memerlukan perhatian serius.
Neni menilai isu kesehatan mental menjadi salah satu tantangan utama yang harus segera ditangani secara komprehensif. Ia menyebut beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, antara lain lingkungan keluarga yang kurang harmonis, minimnya komunikasi antara orang tua dan anak, serta pengaruh media sosial.
Pemerintah Kota Bontang menekankan pentingnya peran sekolah sebagai garda terdepan dalam mendeteksi persoalan remaja. Guru diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa serta mampu memberikan pendampingan yang tepat.
Selain itu, upaya penguatan edukasi juga terus didorong, termasuk pendidikan kesehatan reproduksi dan peningkatan pengawasan terhadap penggunaan media sosial di kalangan pelajar.
Wali Kota juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi anak.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah. Orang tua, guru, dan masyarakat harus bersama-sama memastikan anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan mendukung,” tegasnya. (ADS/BTG)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















