WAJAH Jalan Arjuna, Kelurahan Jawa, Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) perlahan berubah. Selama tiga hari terakhir, saluran drainase yang bertahun-tahun tertutup bangunan mulai dibuka kembali. Lapak pedagang di atas parit ditertibkan, jembatan cor beton dibongkar, bahkan sejumlah teras rumah yang menjorok ke saluran air ikut dibongkar secara sukarela.
Langkah ini menjadi upaya serius Pemerintah Kecamatan Samarinda Ulu untuk mengembalikan fungsi drainase yang selama ini menjadi penyebab genangan setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Normalisasi dilakukan melalui kerja sama lintas instansi. Kegiatan melibatkan Pemerintah Kecamatan Samarinda Ulu, Satpol PP BKO Kecamatan Samarinda Ulu, UPTD PUPR Pasukan Hantu Banyu, Kelurahan Jawa, Ketua RT 09 dan RT 12, serta Babinsa Kelurahan Jawa.
Camat Samarinda Ulu, Sujono, mengatakan proses pembersihan diawali dengan membuka seluruh penutup drainase agar sedimen dan lumpur yang mengendap selama bertahun-tahun dapat diangkat.
“Paritnya penuh sedimen dan selama ini banyak yang tertutup. Sebelum membersihkan lumpur, penutup drainasenya harus dibuka terlebih dahulu,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Menurut Sujono, proses normalisasi tidak bisa dilakukan begitu saja. Banyak bagian drainase yang sudah tertutup bangunan permanen maupun semi permanen.
Di beberapa titik, terdapat lapak pedagang yang berdiri tepat di atas saluran air. Selain itu, sejumlah rumah juga memiliki teras yang dibangun menjorok hingga menutup parit.
“Karena banyak pedagang berjualan di atas parit, kami membersihkan area itu terlebih dahulu. Ada juga beberapa rumah yang terasnya berada di atas saluran drainase,” katanya menukil laman resmi Pemkot Samarinda.
Sebelum pembongkaran dilakukan, pemerintah bersama kelurahan dan para ketua RT lebih dulu menggelar sosialisasi kepada warga. Masyarakat diberikan penjelasan mengenai pentingnya mengembalikan fungsi drainase agar aliran air kembali lancar dan risiko banjir berkurang.
Pendekatan persuasif tersebut membuahkan hasil. Warga menerima penjelasan pemerintah dan mendukung normalisasi drainase, meski harus merelakan sebagian bangunan mereka dibongkar.
“Alhamdulillah respons masyarakat luar biasa. Sepanjang pembongkaran dilakukan untuk kepentingan normalisasi drainase, mereka tidak keberatan,” ungkap Sujono.
Dukungan itu membuat proses pembongkaran berjalan tanpa hambatan berarti. Bahkan, beberapa pemilik rumah membongkar sendiri teras permanen yang selama ini berdiri di atas saluran air.
Selama ini, Jalan Arjuna menjadi salah satu titik yang kerap mengalami genangan ketika hujan deras turun. Air sulit mengalir karena drainase dipenuhi sedimen sekaligus tertutup bangunan.
Akibatnya, air meluap ke badan jalan dan mengganggu aktivitas warga maupun pengguna jalan.
Warga Jalan Arjuna, Erwin, mengaku kondisi tersebut sudah lama menjadi persoalan di lingkungan mereka.
“Kalau hujan deras, air sering meluap ke jalan. Kadang genangannya cukup mengganggu aktivitas warga dan pengguna jalan. Karena itu kami mendukung pembersihan dan pembongkaran agar aliran air kembali lancar,” katanya.
Ia berharap normalisasi tidak berhenti pada pembongkaran saja. Menurutnya, saluran yang sudah dibersihkan harus dirawat secara rutin agar tidak kembali tersumbat.
“Yang terpenting sekarang salurannya bisa dibersihkan secara rutin dan tidak tertutup lagi,” ujarnya.
Usai proses normalisasi, Pemerintah Kecamatan Samarinda Ulu mengimbau masyarakat tidak lagi membuat penutup permanen menggunakan cor beton.
Sebagai alternatif, warga disarankan menggunakan papan atau kayu ulin sebagai akses menuju rumah. Material tersebut lebih mudah dibuka saat petugas melakukan pembersihan saluran.
Dengan cara itu, fungsi drainase tetap terjaga, pemeliharaan lebih mudah dilakukan, dan risiko genangan saat musim hujan dapat ditekan. (*)















