Minimalisir Penularan Corona, Jendela Ruang Rapat DPRD Bontang Dibiarkan Terbuka

Tampak jendela ruang rapat sekretariat DPRD Bontang dibiarkan terbuka, Selasa (21/9/2020).

PRANALA.CO, Bontang – Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) menyebar melalui tetesan (droplets) di udara. Baik itu karena batuk, bersin atau ketika berbicara, sehingga dianjurkan untuk menggunakan masker dan menjaga jarak sosial.

Nah, saat Rapat Kerja (Raker) yang digelar Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bontang, Selasa (22/9/2020) nampak sedikit berbeda. Pasalnya semua jendela dan pintu di ruangan rapat lantai 2, Gedung Sekertariat DPRD, Jl Moh Roem, No 1, Bontang Lestari tersebut dibuka.

Anggota Komisi III DPRD Bontang, Yassier Arafat, mengatakan hal tersebut merupakan salah satu upaya guna menekan penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-2019) di perkantoran.

“Seperti imbauan pemerintah dan diberita-berita bahwa salah satu bentuk penyebaran terbanyak sekarang adalah di perkantoran,” ujarnya, Selasa (22/9/2020).

Mengutip pedoman WHO, Yassier mengakui, penularan virus corona melalui udara bisa terjadi selama prosedur medis spesifik yang menghasilkan aerosol. Contohnya, ketika melakukan intubasi endotrakeal kepada pasien terjangkit virus corona.

Intubasi endotrakeal adalah prosedur medis untuk memasukkan alat bantu napas berupa tabung ke dalam tenggrorokan (trakea) melalui mulut atau hidung. Intubasi bertujuan agar pasien dengan kondisi berat bisa tetap bernapas.

Selain itu, hindari terjadinya kerumunan, misal rapat. Ia menyarankan agar kegiatan rapat dilaksanakan secara daring untuk mencegah terjadinya penularan dalam ruang rapat yang kecil.

Menurut Yassier, seharusnya perkantoran juga tempat-tempat lain, misalnya restoran, mulai memikirkan bagaimana membuat sirkulasi udara di dalam ruangan baik. Tujuannya, agar terjadi pertukaran udara bebas dari luar dengan udara di dalam ruangan.

“Penggunaan AC itu kan menggunakan udara dalam ruangan, jadi sebenarnya kondisi itu tidak bagus, karena udara dalam ruangan hanya berputar saja di situ, sehingga microdroplet itu bisa melayang-layang,” kata politisi Golkar ini.

Alternatifnya, ia menyarankan pada kantor-kantor yang memiliki jendela untuk lebih memaksimalkan penggunaan jendela.Bisa juga dengan menggunakan exhaust fan.sehingga udara di dalam bisa dibuang ke luar.

“Jadi ada suatu aliran udara, sehingga kondisi udara dalam ruangan itu terjaga sirkulasinya dan bisa mendispersi mikro-droplet keluar, intinya begitu,” jelasnya.

Meski menggunakan pendingin ruangan, sebaiknya tetap ada waktu sirkulasi udara segar dari luar dibiarkan masuk dan penggunaan filter AC yang cukup mumpuni. Sementara itu, untuk ruangan tertutup termasuk gedung-gedung perlu ada evaluasi terkait sirkulasi udara. (*)

 

 

Pewarta: Hayati

More Stories
Lima Kapal Kasus Asabri di Samarinda Terjual