GELOMBANG pemadaman listrik bergilir di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), mulai memukul nadi perekonomian warga. Bukan sekadar mengganggu aktivitas rumah tangga, pemadaman yang berlangsung hingga tiga jam sehari ini membuat para pelaku usaha mikro menjerit karena menanggung kerugian nyata.
Sektor kuliner dan penyedia makanan beku (frozen food) menjadi kelompok yang paling terdampak. Tanpa pasokan daya yang stabil, mesin pendingin kehilangan taringnya untuk menjaga kualitas dagangan.
Rinawati (34), salah satu pengusaha frozen food di Bontang, hanya bisa pasrah melihat bunga es di dalam mesin pendinginnya perlahan meleleh. Suhu yang tidak stabil membuat komoditas sensitif seperti nugget, sosis, hingga daging sapi segar kini berada di ambang kerusakan.
“Kalau listrik mati sampai berjam-jam, suhu freezer pasti naik. Produk jadi lembek dan berisiko rusak. Ini jelas sangat merugikan kami,” keluh Rina saat ditemui Pranala.co, Selasa (30/6/2026).
Demi menyiasati kerugian yang lebih membengkak, Rina mengambil langkah pahit. Ia memilih memangkas volume stok barangnya secara drastis, meski keputusan itu otomatis memotong omzet harian yang biasa ia kantongi.
Pelanggan Kabur Saat Jam Makan Siang
Kondisi tidak kalah pelik dirasakan Andi Wirawan (41), pemilik warung makan di kawasan Bontang Selatan. Momentum pemadaman sering kali datang di waktu yang salah, yakni tepat saat jam sibuk makan siang atau makan malam.
Ketika listrik padam, kenyamanan ruang makan langsung sirna. Lampu yang mati dan kipas angin yang berhenti berputar membuat pelanggan enggan bertahan lama di dalam warung.
“Pelanggan jadi tidak nyaman. Sudah udaranya panas, alat masak yang menggunakan listrik juga sama sekali tidak bisa dipakai,” tutur Andi dengan nada kecewa.
Nasib serupa membayangi bisnis kafe modern di Bontang. Dimas Jaya (29), seorang pemilik kafe, menceritakan bagaimana tempat usahanya mendadak sepi begitu pasokan listrik terputus.
Bagi bisnis kafe, listrik adalah nyawa. Tanpa listrik, pendingin ruangan mati, dan yang paling krusial: koneksi internet WiFi terputus. Padahal, mayoritas konsumen datang untuk bekerja atau sekadar nongkrong.
“Begitu WiFi mati dan AC padam, otomatis mereka pergi. Kami khawatir pelanggan beralih ke tempat lain yang sudah punya fasilitas genset,” kata Dimas.
Imbas Gangguan Jaringan Mahakam hingga Juli
Para pelaku usaha kecil di Bontang kini kompak menyuarakan harapan agar ada solusi konkret dari pemerintah maupun PLN. Minimal, ada kepastian jadwal pemadaman yang akurat agar mereka bisa melakukan antisipasi lebih awal.
“Kami butuh kejelasan jadwal. Kalau tahu jam berapa mati lampu, kami bisa bersiap. Kalau bisa, ada bantuan fasilitas penunjang untuk usaha kecil seperti kami,” pungkas Rina.
Duduk perkara pemadaman ini berakar pada gangguan yang terjadi di sistem interkoneksi jaringan Mahakam. Proses perbaikan sistem krusial ini dikabarkan masih terus berjalan.
Estimasi perbaikan diproyeksikan bakal berlangsung hingga pertengahan Juli 2026. Selama masa pemeliharaan tersebut, warga Bontang tampaknya masih harus bersiap menghadapi pemadaman bergilir yang sewaktu-waktu bisa mengancam jalannya usaha mereka. [FR]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















