KALIMAT “seperti sauna” terlontar dari Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, saat meninjau lobi Hotel Atlet di kawasan Gelora Kadrie Oening, Sempaja, Samarinda, Rabu (22/4). Di ruang yang mestinya menyambut tamu, ia justru menemukan persoalan mendasar: kenyamanan.
Temuan itu langsung berujung instruksi. Tanpa jeda, Rudy meminta pengelola memasang tambahan pendingin ruangan dalam waktu cepat. Ia bahkan menyebut spesifikasi yang diinginkan agar efeknya signifikan.
“Besok di sini dipasang 10 AC. Cari vendor yang biasa bekerja sama. Pakai yang 5 PK atau 7 PK supaya dingin. Jangan sampai lobi kita ini malah seperti sauna,” ujarnya.
Instruksi tersebut bukan sekadar soal suhu ruangan. Bagi Rudy, itu menjadi simbol persoalan lebih besar: aset daerah yang tidak dikelola optimal selama bertahun-tahun. Hotel Atlet Sempaja, yang telah berdiri sekitar 20 tahun, dinilai belum memberikan kontribusi berarti bagi pendapatan daerah.
Ia menggambarkan kondisi hotel tersebut seperti “barang mati”. Tidak ada aktivitas penunjang yang lazim ditemukan di hotel komersial—mulai dari restoran, hiburan, hingga penyewa tetap.
“Ini punya potensi besar, tapi selama ini seperti barang mati. Belum ada musiknya, belum ada restorannya, belum ada penyewanya. Kita akan aktivasi semuanya,” kata Rudy Mas’ud lewat keterangan resminya, Kamis (23/4/2026).
Saat ini, pengelolaan hotel berada di tangan pihak swasta, Clara Pandurata. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tetap mempertahankan fungsi hotel sebagai fasilitas pendukung atlet, namun arah kebijakan akan diperluas ke sektor komersial agar operasionalnya berkelanjutan.
Rudy juga membawa pendekatan bisnis dalam pengelolaan aset tersebut. Ia mendorong skema pembiayaan kolaboratif, termasuk melalui operasional hotel, dukungan Bank Kaltimtara, serta pemanfaatan program tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan daerah.
Langkah ini sekaligus mencerminkan upaya pemerintah daerah mengurangi beban aset tidak produktif. Dalam banyak kasus, aset seperti hotel milik pemerintah kerap menjadi sumber biaya tanpa menghasilkan pendapatan signifikan jika tidak dikelola secara profesional.
Ke depan, Hotel Atlet Sempaja diproyeksikan berubah fungsi menjadi pusat aktivitas publik. Sejumlah rencana disiapkan, mulai dari restoran dan kafe terbuka, live music, area tenant UMKM dan brand lokal, hingga fasilitas tambahan seperti kolam renang dan ballroom.
Jika skenario ini berjalan, Pemprov Kaltim menargetkan Hotel Atlet tidak lagi menjadi beban anggaran, melainkan bertransformasi menjadi salah satu mesin baru Pendapatan Asli Daerah (PAD). [RE]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















