RUANG publik Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) yang belakangan mulai bersolek dan hidup kembali ternoda. Aksi vandalisme berulang kali terjadi dan menyasar sejumlah fasilitas publik yang dibangun menggunakan uang rakyat.
Setelah sebelumnya pot bunga di Jalan Ahmad Yani dihancurkan sekelompok remaja, kini giliran lampu taman di kawasan Tugu Selamat Datang yang menjadi korban perusakan oknum tidak bertanggung jawab.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, tidak mampu menyembunyikan rasa prihatin sekaligus kekecewaannya. Neni menilai, tindakan merusak estetika kota ini sama sekali tidak mencerminkan perilaku masyarakat Bontang yang beradab.
“Kalau orang yang normal sih mungkin tidak begitu. Berarti itu bagian dari orang-orang abnormal. Saya mengimbau kepada masyarakat Kota Bontang agar tidak merusak fasilitas yang sudah dibangun,” ujar Neni, Senin (15/6/2026).
Neni menjelaskan, pemerintah daerah sengaja membangun berbagai fasilitas, mulai dari lampu hias hingga taman kota, untuk mendongkrak kualitas hidup warga. Ruang-ruang publik ini sekarang mulai ramai digunakan keluarga dan anak muda untuk berinteraksi positif.
Sayangnya, kerja keras mempercantik kota ini dirusak oleh segelintir orang. Aksi serupa ternyata juga ditemukan di jalur protokol lainnya.
“Lampu hias di sepanjang Jalan MT Haryono juga dirusak. Sayang sekali. Fasilitas ini dibangun dengan anggaran yang tidak sedikit. Harusnya dijaga bersama,” tambahnya.
Merespons masalah ini, Neni langsung mengevaluasi sistem pengawasan kota. Pemerintah sebenarnya sudah memasang kamera CCTV di berbagai titik strategis, namun efektivitasnya mulai menurun karena usia perangkat yang sudah tua.
Neni menegaskan akan segera meminta Dinas Kominfo untuk mengecek kembali seluruh CCTV kota agar pengawasan bisa berjalan optimal.
Meski geram, Pemkot Bontang memilih jalan edukatif dalam menangani pelaku yang mayoritas masih berusia remaja. Pendekatan sanksi sosial dan pembinaan lewat surat pernyataan bermeterai diutamakan ketimbang langsung menjebloskan mereka ke ranah hukum.
Sanksi sosial ini diterapkan untuk memberi efek jera sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa merawat kota adalah tanggung jawab kolektif.
Senada dengan Wali Kota, Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faiz Sofyan Hasdam, ikut angkat bicara. Andi Faiz menekankan bahwa akar masalah dari vandalisme ini adalah krisis rasa memiliki terhadap kota.
“Perlu kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap Kota Bontang. Kita sedang dalam situasi yang tidak mudah, tapi tetap berupaya menghadirkan fasilitas yang bisa dinikmati bersama,” ungkap Andi Faiz.
Ia melihat aksi perusakan ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan buntut dari minimnya pemahaman bahwa fasilitas publik adalah milik bersama yang dibiayai dari pajak masyarakat. Saat fasilitas itu rusak, seluruh warga Bontang sebenarnya ikut dirugikan.
Demi memberikan efek jera yang nyata, DPRD Bontang mendukung penuh penerapan sanksi sosial yang lebih tegas. Salah satu opsi yang dilemparkan adalah mempublikasikan rekaman CCTV wajah para pelaku ke media sosial agar mendapat sanksi moral dari publik.
“Mudah-mudahan ini bisa meningkatkan kesadaran, terutama bagi remaja, bahwa mereka adalah bagian penting dari kota ini—bukan perusaknya,” tegas Andi Faiz. [FR]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















