SEBUAH kecelakaan tragis terjadi di Thailand. Iring-iringan prosesi Buddha yang berjalan khidmat seketika berubah menjadi pemandangan mengerikan. Delapan orang biksu dilaporkan tewas setelah sebuah truk pikap menghantam rombongan mereka tanpa kendali.
Ironisnya, pengemudi truk pikap tersebut adalah seorang anak laki-laki yang baru berusia 11 tahun. Bocah tersebut nekat mengemudikan kendaraan milik orang tuanya secara sembunyi-sembunyi.
Peristiwa kelam ini terjadi di Provinsi Mukdahan, Thailand, Kamis, 2 Juli 2026. Saat itu, rombongan keagamaan yang terdiri dari 35 biksu dan lima pengikutnya sedang berjalan kaki secara tertib di pinggir jalan raya.
Tanpa diduga, sebuah truk pikap melaju kencang ke arah rombongan. Kendaraan tersebut oleng dan langsung menyapu para biksu yang berada di barisan.
“Polisi menyatakan bocah laki-laki itu membawa truk pikap orang tuanya tanpa izin, sebelum akhirnya kehilangan kendali kendaraan dan menabrak para biksu,” tulis laporan dari kantor berita AFP, Kamis, 2 Juli 2026.
Benturan keras tersebut membuat jalur prosesi berantakan. Lima biksu dilaporkan meninggal dunia seketika di lokasi kejadian akibat luka parah.
Tim medis dan penyelamat darurat segera dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Mukdahan. Sayangnya, nyawa tiga biksu lainnya tidak tertolong dan mereka mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Hingga saat ini, total korban jiwa mencapai delapan orang, sementara 10 orang lainnya masih berjuang pulih dari luka-luka.
Otoritas kepolisian setempat bergerak cepat mengamankan situasi. Kepala Kepolisian Kota Mukdahan, Prayut Ruanthongkam, mengonfirmasi bahwa pelaku memang anak-anak. Truk yang ringsek juga telah disita.
“Tersangka adalah seorang anak. Kendaraan tersebut telah dibawa untuk pemeriksaan forensik guna menentukan penyebab pasti kecelakaan,” ujar Komandan Kepolisian Provinsi Mukdahan, Mayor Jenderal Polisi Pairoj Thaiphutsa.
Penyelidikan kini diarahkan pada unsur kelalaian orang tua. Polisi menegaskan akan ada konsekuensi hukum bagi pihak keluarga yang membiarkan anak di bawah umur menguasai kendaraan roda empat.
“Kami telah meminta orang tua anak tersebut untuk datang. Kami harus menentukan siapa yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak ini agar proses hukum bisa dilanjutkan,” tegas Pairoj.
Tragedi ini langsung memicu reaksi keras dari pemerintah daerah setempat. Gubernur Provinsi Mukdahan, Worayan Bunnarat, menyebut insiden ini sebagai tamparan keras sekaligus peringatan darurat bagi seluruh masyarakat.
Pemerintah daerah mengklaim telah memperketat aturan lalu lintas dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kelalaian di tingkat keluarga terbukti masih menjadi celah fatal.
“Kasus ini harus menjadi pelajaran. Bukan hanya untuk provinsi kami, tetapi untuk masyarakat umum dalam mencegah kecelakaan lalu lintas,” ungkap Worayan.
Worayan mengimbau kepada seluruh keluarga agar menjaga ketat kunci kendaraan mereka dari jangkauan anak-anak. “Saya pikir semua yang terlibat, terutama orang tua, perlu membantu. Tidak ada satu pun dari kita yang menginginkan hal seperti ini terjadi,” pungkasnya. [RE/ID]



















