Begini Curhat Orangtua di Bontang selama Penerapan Belajar Online

  • Whatsapp
Ilustrasi siswa belajar di rumah selama masa pandemi korona. (Tirto)

PRANALA.CO, Bontang – Sekolah tatap muka sejatinya mengikuti kehendak orangtua. Maklum selama pandemik virus corona atau COVID-19, mereka punya peran ganda. Itu sebab Dinas Pendidikan (Disdik) Bontang bakal adakan jajak pendapat. Nantinya survei ini meminta pendapat orangtua soal sekolah tatap muka.

“Sebenarnya anak saya sudah kangen pengin belajar di sekolah lagi,” ujar Diah Purnama Sari, warga Kelurahan Bontang Baru saat dikonfirmasi, Kamis (26/11) petang.

Bacaan Lainnya

Kata Diah, sapaan karibnya, sejak wabah corona melanda Bontang sudah jadi kewajiban untuk meliburkan semua siswa dan belajar dari rumah. Walau demikian, sepanjang tujuh bulan terakhir dampaknya memang terasa. Pekerjaannya sebagai orangtua bertambah, sementara anak susah konsentrasi saat belajar online.

“Paling kentara saat diberikan tugas, selalu menunda,” tuturnya.

Dirinya pun paham benar dengan kondisi anaknya tersebut. Sebab sebagian anak usia sekolah dasar memang lebih banyak berinteraksi dengan rekan-rekannya secara langsung. Dan selama berbulan-bulan itu tak dilakukan. Hanya lewat gawai saja.

Kondisi virus corona memang tak bisa dibendung. Itu sebab saat Disdik Bontang hendak memberikan ruang bagi sekolah tatap muka tentu dirinya turut senang dan bersyukur.

“Kami sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari masker, face shield, hand sanitizer dan sarung tangan. Semuanya agar anak terhindar dari corona,” tegasnya.

Setali tiga uang, Nurdiansyah juga punya pendapat serupa. Hanya saja anaknya masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Tapi itu tak menjadi soal, sebab sebagai orangtua, dirinya juga hadapi persoalan senada. Pun demikian dengan keresahannya. Selama tujuh bulan ini sebagai orangtua bebannya ikut bertambah membimbing anak, sementara ada pekerjaan juga menuntut diselesaikan.

“TK tempat anak saya belajar sudah memberikan materi soal angka, tulis-menulis dan membaca. Jadi benar-benar telaten. Anak di rumah kurang fokus,” akunya.

Anak yang tak fokus saat berada di rumah memang bisa dimaklumi. Itu sebab dirinya juga ikut bersyukur jika pemerintah bakal mengeluarkan beleid sekolah tatap muka.

Kendati begitu, sejumlah proteksi tentu diberikan. Jangan sampai kebijakan tersebut berbuah petaka dengan hadirnya klaster baru. Semua peralatan seperti masker, face shield, hand sanitizer dan sarung tangan sudah dibeli. Dan dirinya berharap sekolah juga memberikan sarana penunjang sesuai protokol kesehatan.

Sementara, Pemkot Bontang memang sudah mengisyaratkan membuka sekolah pada Januari 2021 mendatang. Dinas pendidikan setempat saat ini tengah menyusun regulasi model pembelajaran di tengah pandemi. Namun dilakukan bertahap.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang, Saparuddin berujar, nantinya, pembelajaran tatap muka digelar secara bertahap. Hanya kelas atas yang masuk, yakni kelas 5 dan 6 di tingkat Sekolah Dasar (SD), serta kelas 8 dan 9 di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Evaluasi pelaksanaan pembelajaran tatap muka dilakukan secara berkala guna menentukan penambahan jumlah kelas pembelajaran tatap muka di setiap sekolah.

“Jumlah siswa dalam kelas juga kita batasi, setiap dua bulan kita lakukan evaluasi,” bebernya.

Opsi dibukannya kembali sekolah ini mencuat menyusul adanya lampu hijau dari Pemerintah Pusat melalui SKB 4 Menteri. Dimana ditetapkan Januari 2021 sekolah sudah boleh dibuka, namun teknis pelaksanaanya diserahkan ke masing-masing daerah.

Ada dua pilihan pelaksanaan sekolah tatap muka yang dapat dipilih. Yakni, berbasis sekolah atau berbasis kelas. Namun demikian, ia menyatakan kemungkinan pilihan berbasis kelas yang akan diterapkan di Kota Bontang.

“Kalau berbasis sekolah nanti ada lagi orang tua siswa yang bingung kenapa ada sekolah yang masuk dan tidak. Jadi kemungkinan kita akan pilih yang berbasis kelas, dengan membatasi jumlah siswa yang masuk,” terangnya.

Selain persetujuan orang tua murid, kesiapan sekolah menerapkan protokol kesehatan juga menjadi penekanan yang akan terus diperhatikan. Hal teknis lain seperti jam belajar, posisi duduk, tenaga pendidik yang tidak berpindah-pindah kelas, pembatasan kegiatan berkumpul di area sekolah, pemberdayaan UKS, serta penyemprotan disinfektan secara berkala akan menjadi poin penting yang tengah diatur.

 

 

[js|id]

Pos terkait