Sempat Ikuti Ujian Daring, Pelajar di Balikpapan Tutup Usia

Rumah Duka yang berlokasi di Jalan Sulawesi RT 45 Karang Rejo, Balikpapan Tengah/ Dokumen IST

PRANALA.CO, Balikpapan – Seorang pelajar SMP di Balikpapan, Kalimantan Timur, Wahyudi Rahmad tutup usia setelah sebelumnya mengikuti ujian secara daring.

Usai selama 1 hari dirinya dirawat di rumah sakit, akhirnya pelajar berusia 14 tahun ini menghembuskan nafas terakhirnya. Wahyudi kemudian dimakamkan pada hari yang sama.

Awalnya ia mengalami kram pada tangan kanannya. Tak lama kemudian, separuh bagian tubuh sebelah kanannya mati rasa dan tak bisa digerakkan. Ia kemudian ambruk dan mengalami koma hingga akhirnya dirujuk ke RSUD Beriman Balikpapan.

Sang Ayah, Pardi mengaku tak menyangka putranya yang sebelumnya terlihat sehat, tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit dan berujung meninggal dunia.

“Karena selama ini saya hanya memonitor saja kalau dia sedang mengerjakan tugas. Biasa saya tanya apakah ada tugas. Kalau ada tugas saya biarkan dia mengerjakan sendiri,” katanya.

Selama ini saat putranya mengerjakan tugas ataupun mengikuti ujian, Pardi meninggalkan dia sendiri di ruang tamu atau ditemani sang kakak.

Menurutnya sesaat sebelum dilarikan ke rumah sakit, putranya tengah mengikuti ujian sekolah secara daring di ruang tamu rumahnya berlokasi di Jalan Sulawesi, RT 45, Kelurahan Karang Rejo, Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan.

Saat itu ia mengikuti ujian yang terdiri dari dua sesi. Pada sesi pertama Wahyudi mulai mengeluh sakit. Tak lama pada sesi kedua dirinya jatuh tak sadarkan diri. Wahyudi adalah pelajar SMP Negeri 6 Balikpapan.

“Kebetulan dia kan memang lagi ujian akhir semester,” kata Pardi.

Pada hari dirinya mengalami gejala tersebut, ia langsung dilarikan ke RSUD Beriman, Balikpapan. Ada dugaan ia mengalami gangguan pada saraf atau saraf putus yang mirip dengan stroke. Namun masih belum bisa disimpulkan sebelum dirinya menjalani CT Scan. Sementara, di RSUD Beriman tidak ada fasilitas CT Scan.

“Akhirnya kata dokter harus dirujuk ke RS Pertamina Balikpapan (RSPB) atau Siloam. Dan CT Scan itu harusnya dilaksanakan hari ini. Tapi ternyata sebelum CT Scan dia sudah nggak ada (meninggal dunia),” jelas Pardi.

Ahmad Hidayat, guru mengaji Wahyudi yang juga sahabat sang ayah mendampingi hingga pemuda tersebut dinyatakan meninggal dunia. Sebelumnya dokter juga sudah melakukan rangsangan terhadap anggota tubuh Wahyudi.

“Saat dirangsang yang bergerak hanya kaki sebelah kiri saja, tapi yang kanan tidak bergerak. Makanya kan mau CT Scan. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Sebelum sempat CT Scan ternyata sudah dijemput Allah, jadi sampai sekarang cuma dugaan saja ada masalah pada saraf,” katanya.

Pada malam hari sebelum ia jatuh sakit, Wahyudi sempat mengaji. Menurutnya, Wahyudi rajin beribadah dan tidak banyak tingkah. Pada saat itu secara fisik dia tidak ada masalah. Namun 8 harinya ia terlihat sangat lemah dan tidak berdaya.

“Sampai waktu dirawat dia matanya hanya terbuka sesekali,” ungkapnya.

Bahkan selama ini tidak ada keluhan. Ia sendiri tidak tahu secara medis, namun memang dari Informasi yang disampaikan ibunya, Wahyudi sempat jatuh beberapa hari sebelumnya.

“Tapi memang belum sempat diketahui pasti sakitnya kenapa,” tandasnya.

 

 

[idn]

More Stories
VIDEO: Tiga TPP di Bontang Masuk Penilaian Nasional