BALIKPAPAN, Pranala.co — Rentetan kebakaran terjadi di sejumlah wilayah Kota Balikpapan dalam sepekan terakhir, dengan empat titik kejadian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 12 bangunan hangus terbakar, mayoritas terjadi di kawasan permukiman padat.
Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali, menjelaskan peristiwa pertama terjadi di kawasan Karang Jati yang menghanguskan empat bangunan dan berdampak pada sembilan kepala keluarga atau sekira 25 jiwa.
Kebakaran kemudian kembali terjadi di Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat, dengan satu bangunan mengalami kerusakan hingga 75 persen.
Bahkan pada Senin, 30 Maret 2026, kebakaran terjadi dua kali di lokasi berbeda. Pertama di kawasan Kariangau, Balikpapan Barat, yang menghanguskan tiga kios, terdiri dari dua toko dan satu bengkel motor.
Selanjutnya, kebakaran juga terjadi di kawasan Karangrejo, Balikpapan Tengah, yang menyebabkan empat bangunan terdampak, dengan tiga rumah terbakar habis dan satu lainnya mengalami kerusakan pada bagian atap.
Usman menyebut, sebagian besar kebakaran terjadi di kawasan dengan bangunan yang saling berhimpitan serta didominasi material mudah terbakar, sehingga api cepat merambat.
“Kobaran api dengan cepat menjalar karena kondisi bangunan berdekatan dan sebagian menggunakan material yang mudah terbakar,” tutur Usman, Kamis (2/4/2026).
Selain faktor bangunan, lanjut Usman, kendala di lapangan juga turut memengaruhi proses pemadaman. Salah satunya adalah kerumunan warga yang memadati lokasi kejadian.
“Kerumunan warga ini bisa menghambat akses mobil pemadam dan membahayakan masyarakat sendiri,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, memastikan suhu udara di Balikpapan dalam beberapa hari terakhir tidak menjadi pemicu kebakaran, meski sejumlah insiden terjadi di berbagai wilayah.
Ia menjelaskan, suhu maksimum selama empat hari terakhir masih berada dalam batas normal, yakni 32 derajat Celsius pada 28 Maret, 31 derajat pada 29 Maret, 31,5 derajat pada 30 Maret, dan 30 derajat pada 31 Maret.
Menurutnya, kondisi suhu tersebut tidak cukup untuk memicu kebakaran. “Justru dampak dari kebakaran itu yang menimbulkan panas lebih tinggi dan terasa tidak nyaman saat beraktivitas,” ujarnya.
Diwartakan sebelumnya, BMKG mencatat, musim kemarau diperkirakan mulai terjadi secara bertahap sejak April 2026, mencakup sekira 16,3 persen wilayah Indonesia. Persentase ini meningkat menjadi 26,3 persen pada Mei dan 23,3 persen pada Juni.
Dengan demikian, sekira 46,5 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami musim kemarau lebih awal dari biasanya.
Wilayah terdampak meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dengan cakupan sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia.
“Kondisi kering akan semakin meluas dan mendominasi banyak wilayah, termasuk Kalimantan,” ujar Djoko.
BMKG juga memperkirakan musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dibanding kondisi normal. Sekira 64,5 persen wilayah berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal, sementara 57,2 persen wilayah lainnya diprediksi mengalami durasi kemarau lebih panjang. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















