JAGAT media sosial di Balikpapan sempat gaduh oleh isu aksi begal yang meresahkan warga. Kabar burung ini bahkan memicu pergerakan massa dari Aliansi Balikpapan Bergerak (Barak) hingga menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Balikpapan.
Merespons keresahan publik dan tuntutan para mahasiswa, Kapolresta Balikpapan Kombes Pol Jerrold HY Kumontoy langsung angkat bicara. Jerrold menegaskan bahwa hingga detik ini, jajaran Satreskrim Polresta Balikpapan sama sekali belum menerima laporan resmi terkait kasus pembegalan.
Kabar miring yang telanjur viral tersebut, menurut Jerrold, berakar dari sebuah insiden berdarah di kawasan Sepinggan, Balikpapan Selatan, sekitar dua pekan lalu. Video peristiwa itu kemudian disebarkan oleh oknum tidak bertanggung jawab dengan narasi yang keliru.
"Terkait masalah begal, beberapa waktu yang lalu kita sudah menjawab isu tersebut. Isu begal itu dimulai dari adanya pembacokan di Sepinggan," ujar Jerrold, Selasa (16/6/2026).
Jerrold meluruskan bahwa tim penyidik bergerak cepat mendalami kasus pembacokan di Sepinggan tersebut. Hasilnya mengejutkan. Peristiwa itu murni kasus penganiayaan akibat konflik antar-kelompok, bukan aksi begal jalanan yang menyasar korban secara acak.
Polisi bergerak tak lama setelah kejadian dan berhasil mencokok pelaku. Saat melancarkan aksinya, pelaku ternyata berada di bawah pengaruh alkohol.
"Dari pembacokan itu kelompok tersebut melakukan upaya balas dendam. Dan ternyata setelah kita menangkap siapa yang membacok, ini pure penganiayaan. Karena yang membacok ini sudah kita tangkap dalam kondisi mabuk," kata Jerrold.
Jerrold memastikan pihak kepolisian tidak berniat menutupi kondisi keamanan di Kota Minyak. Namun, ia meminta masyarakat tidak menyamakan semua tindak kriminal jalanan sebagai aksi begal.
Melihat banyaknya salah kaprah di tengah masyarakat, Jerrold merasa perlu mengedukasi warga mengenai perbedaan mendasar antara aksi penjambretan dan pembegalan.
"Kalau copet, itu kan kategori copet. Pada saat dia lagi bawa motor, terus handphone-nya ditarik, itu jambret," urai Jerrold memberikan contoh ringkas.
Sebaliknya, begal memiliki eskalasi kekerasan yang jauh lebih tinggi dan mengerikan.
"Kalau begal itu dia menghentikan korban, melakukan tindakan kekerasan, baru dia mengambil barang-barang milik orang tersebut. Sejauh ini tidak ada laporan LP (Laporan Polisi) seperti itu di tempat kami," tegasnya.
Meski memastikan wilayahnya aman dari begal, Polresta Balikpapan tidak mau terlena. Polisi langsung memasang mode waspada demi menjamin rasa aman warga yang beraktivitas di malam hari.
Langkah preventif kini diperketat. Jajaran Brimob, Kring Reskrim, hingga Blue Light Patrol dikerahkan untuk menyisir sudut-sudut kota yang rawan.
"Kita sudah meningkatkan patroli untuk memberi rasa aman kepada masyarakat," imbuhnya.
Menutup keterangannya, Jerrold mengaku tetap mengapresiasi aksi kritis para mahasiswa sebagai bahan evaluasi internal kepolisian. Namun, ia menyelipkan pesan hangat agar generasi muda lebih bijak dan menyaring informasi sebelum membagikannya ke media sosial.
"Harusnya adik-adik mahasiswa yang lebih peka terhadap teknologi informasi juga lebih peka untuk membaca semua informasi," pungkas Jerrold. [RUL]















