Pranala.co, BONTANG — Tidak semua anak di Bontang tumbuh dalam kondisi ideal. Sebagian harus menghadapi persoalan yang seharusnya belum menjadi beban mereka. Terlalu berat. Terlalu cepat.
Pemerintah Kota Bontang pun memilih tidak tinggal diam. Melalui kolaborasi Gerakan Keluarga Sakinah dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), pendampingan intensif terus dilakukan. Sasarannya jelas. Rumah tangga bermasalah. Terutama yang melibatkan anak-anak.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan satu hal penting. Anak-anak berhak menikmati masa kecilnya. Bermain. Belajar. Bertumbuh secara wajar.
“Anak-anak itu jangan dipaksa dewasa,” kata Neni, Sabtu (3/1/2026).
Namun realitas di lapangan tak selalu seindah harapan. Ada anak yang “dewasa sendiri”. Bukan karena pilihan. Melainkan karena tekanan lingkungan. Faktor pergaulan. Atau kondisi keluarga yang tidak mendukung.
Salah satu persoalan yang menjadi sorotan serius adalah kehamilan di usia anak. Masalah ini, kata Neni, bukan sekadar soal moral atau sosial. Dampaknya panjang. Bahkan bisa diwariskan ke generasi berikutnya.
“Kalau ada anak yang hamil di luar nikah, pemerintah hadir. Kita dampingi. Fokus utama kami gizi,” ujarnya.
Alasannya sederhana. Tapi dampaknya besar. Kehamilan di usia muda sering berujung pada bayi dengan berat badan lahir rendah. Asupan gizi ibu yang belum optimal menjadi penyebab utama. Dari sanalah risiko stunting mengintai.
“Biasanya bayinya kecil. Berat badan lahir rendah. Ini yang kita cegah bersama,” jelas Neni.
Masalah lain yang tak bisa dihindari adalah kemiskinan. Faktor klasik. Namun masih menjadi akar banyak persoalan keluarga.
Keterbatasan ekonomi berdampak ke banyak hal. Pendidikan terhambat. Pemahaman kesehatan minim. Perencanaan masa depan nyaris tak terpikirkan.
“Mohon maaf, kemiskinan sering berkaitan dengan persoalan sosial,” tutur Neni.
Ia menambahkan, ketika status sosial dan pemahaman meningkat, orang tua umumnya lebih siap memikirkan masa depan anak. Meski tentu saja, kondisi itu tidak bisa digeneralisasi.
Sejumlah kasus, lanjut Neni, banyak ditemukan di wilayah pesisir. Masih ada anak yang putus sekolah. Kurang pendampingan. Kurang perhatian.
Namun ia menegaskan, tidak semua wilayah pesisir memiliki persoalan yang sama.
“Di pesisir ada anak-anak yang tidak sekolah. Tapi tidak semuanya seperti itu,” katanya.
Justru di situlah peran pendampingan menjadi penting. Agar tidak ada anak yang tertinggal. Agar semua punya kesempatan yang sama.
Melalui pendampingan berkelanjutan, Pemkot Bontang berharap bisa memutus mata rantai stunting sejak dini. Sekaligus meningkatkan kesadaran keluarga tentang pentingnya pendidikan, kesehatan, dan perencanaan masa depan anak.
Dia juga mengajak masyarakat untuk ikut terlibat. Menciptakan lingkungan yang aman. Ramah anak. Dan mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















