Pranala.co, MAHULU - Perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur (Kaltim) memang tak pernah mudah. Debu tebal. Jalan sempit. Medan berat.
Itulah kondisi yang dihadapi rombongan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) saat melakukan kunjungan kerja menuju Kabupaten Kutai Barat dan Mahakam Ulu, 6–8 Januari 2026.
Di tengah perjalanan, sebuah insiden kecil sempat terjadi. Satu unit kendaraan rombongan keluar jalur saat melintas di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Acacia Andalan Utama (AAU).
Namun, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memastikan kabar yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya benar. Tidak ada korban. Tidak ada kendaraan masuk sungai. Agenda tetap berjalan hingga tuntas.
Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Kaltim, Irhamsyah, yang berada langsung di kendaraan tersebut, menjelaskan kronologi kejadian di lapangan.
Saat itu, rombongan melintasi jalan tanah kepasiran dengan debu sangat tebal. Jarak pandang nyaris tertutup. “Debunya pekat sekali. Jalan berpasir. Pandangan terbatas,” ujar Irhamsyah.
Meski begitu, kecepatan kendaraan dijaga rendah. Tidak lebih dari 40 kilometer per jam. Di depan masih ada kendaraan pengawal. Kondisi jalan pun tidak memungkinkan melaju cepat.
Namun, debu yang menutup pandangan membuat kendaraan yang ditumpanginya bersama seorang staf dan sopir terperosok ke parit jalan logging. Tepat di area jembatan kayu yang menyempit.
“Bukan masuk sungai. Itu parit besar di jalan logging,” tegasnya.
Irhamsyah memastikan seluruh penumpang dalam kondisi sehat. Tidak ada luka. Tidak ada cedera.
“Alhamdulillah, semua selamat,” katanya.
Usai insiden, kendaraan langsung dievakuasi. Secara teknis masih bisa berjalan. Namun demi keamanan, rombongan memilih berpindah ke kendaraan lain. Mobil tersebut kemudian dikirim ke Samarinda untuk pemeriksaan lanjutan.
Agenda tidak terhenti. “Kami tetap lanjut. Bahkan masih menghadiri peresmian Jalan Tering–Ujoh Bilang dan bertemu langsung dengan Pak Gubernur,” tambah Irhamsyah.
Klarifikasi Pemprov: Bukan Sungai, Bukan Kelalaian
Ramainya potongan video dan narasi di media sosial membuat Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur angkat bicara.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal, menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam menyerap informasi.
“Banyak unggahan tidak menggambarkan fakta secara utuh,” kata Faisal.
Ia menjelaskan, rute menuju Mahakam Ulu memang melewati Muara Jawaq, Kampung di Kecamatan Mook Manaar Bulatn, Kutai Barat. Jalur ini merupakan jalan logging dengan karakter medan berat.
Saat rombongan melintas, debu tebal menutup pandangan pengemudi. Di titik jembatan kayu yang menyempit, kendaraan mengalami insiden dan masuk ke parit jalan.
“Bukan sungai. Bukan karena aksi berbahaya. Ini murni faktor alam dan kondisi medan,” tegasnya.
Faisal mengingatkan, kecepatan informasi memang penting. Namun akurasi jauh lebih penting. “Jangan memperkeruh suasana dengan judul bombastis yang tidak sesuai fakta,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi media yang melakukan konfirmasi langsung kepada narasumber. Menurutnya, itulah praktik jurnalistik yang sehat dan bertanggung jawab.
“Klarifikasi ini agar publik tahu kondisi sebenarnya. Pak Irhamsyah baik-baik saja dan seluruh agenda tetap berjalan,” katanya.
Kunjungan kerja awal 2026 ini difokuskan untuk meninjau langsung hasil pembangunan tahun anggaran 2025. Baik yang dikerjakan Pemprov Kaltim maupun melalui bantuan keuangan ke daerah.
Salah satu titik krusial adalah jalur strategis Bongan–Sotek. Jalur ini dinilai mampu memangkas waktu tempuh masyarakat hingga sekitar 1,5 jam.
Menurut Faisal, insiden kecil di jalan logging justru menjadi potret nyata kondisi yang dihadapi warga pedalaman setiap hari.
“Inilah alasan percepatan infrastruktur terus kami dorong. Pemerintah hadir untuk membuka konektivitas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (RE)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















