Pranala.co, BONTANG – Rasa cemas masih menyelimuti warga Kampung Rawa-Rawa, Kelurahan Loktuan, Kota Bontang. Seekor buaya berukuran besar yang kerap muncul di kawasan rawa dekat permukiman dinilai semakin membahayakan, terlebih setelah insiden penyerangan terhadap bocah 11 tahun Abisar, Sabtu (28/2/2026) lalu.
Buaya tersebut bukan pendatang baru. Warga mengaku sudah lama melihat kemunculannya, bahkan di titik yang sama. Herawati, tante korban, menyebut buaya itu berukuran sangat besar, diperkirakan mencapai enam meter.
"Buaya itu memang sering ada di situ. Kami takut karena sudah ada korban. Di sana banyak anak kecil. Kalau masih dibiarkan berkeliaran, khawatir nanti ada korban lagi," ujar Herawati.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Kampung Rawa-Rawa merupakan kawasan rawa pasang surut. Saat air naik, meski tidak terlalu tinggi, buaya bisa dengan mudah masuk ke sela-sela permukiman, gang rumah warga, hingga area dekat sekolah dasar.
"Dia tidak harus menunggu pasang besar. Asal ada air, dia sudah jalan," kata Herawati.
Warga juga menyebut buaya tersebut tergolong agresif dan mudah terpancing. Sisa ayam atau bangkai yang dibuang ke sungai kerap mengundang kemunculannya. Pernah ada warga yang mencoba memberi umpan ayam bercampur racun dengan harapan buaya itu mati. Namun upaya tersebut tidak berhasil dan justru dinilai berisiko mencemari lingkungan.
Riana, warga RT 07, menilai kondisi ini sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak. Meski orang tua sudah berulang kali mengingatkan, tetap saja ada anak yang bermain di tepi rawa.
"Namanya anak-anak, kadang susah dilarang. Apalagi di beberapa titik tidak ada pagar pembatas. Mereka sering menurunkan kaki ke air," ujarnya.
Ia menambahkan di kawasan Kampung Rawa-Rawa terdapat Sekolah Dasar Negeri 004 yang jaraknya cukup dekat dengan area rawan. Hal ini membuat kekhawatiran warga semakin besar.
Warga juga menyoroti minimnya infrastruktur pengaman. Di beberapa gang, akses jalan masih berupa papan kayu dan tidak dilengkapi pagar. Saat air pasang, ketinggian air bahkan bisa mendekati rumah warga.
"Yang paling berbahaya itu di RT 07, sepanjang rawa tidak ada pagar sama sekali," kata Riana.
Melihat kondisi tersebut, warga berharap pemerintah kelurahan, kecamatan, hingga instansi terkait seperti Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) segera turun tangan. Mereka meminta buaya tersebut ditangkap dan direlokasi ke penangkaran, bukan dibunuh.
"Kalau buaya di Guntung saja bisa dibawa ke penangkaran, mengapa yang ini tidak? Ini sudah ganggu orang, bahkan sudah makan korban," tegas Riana.
Selain relokasi buaya, warga juga berharap ada langkah edukatif dan preventif. Pemasangan pagar pengaman, rambu peringatan, serta sosialisasi tentang bahaya buaya dan cara hidup berdampingan dengan satwa liar di kawasan rawa menjadi tuntutan tambahan. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















