Pranala.co, BONTANG — Peristiwa tragis yang menimpa Abisar (11), bocah korban serangan buaya di kawasan pesisir RT 7 Kampung Rawa-Rawa, Kelurahan Lok Tuan, Kota Bontang, menggugah kepedulian berbagai pihak. Pemerintah Kota Bontang memastikan korban mendapat penanganan medis, meski berasal dari keluarga kurang mampu dan belum memiliki jaminan kesehatan.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyatakan kesiapan untuk turun langsung membantu proses penanganan korban, bahkan memberikan bantuan secara pribadi agar pengobatan Abisar dapat berjalan optimal.
“Saya siap membantu, termasuk secara pribadi. Saya juga berharap ada dukungan dari berbagai pihak karena anak ini berasal dari keluarga tidak mampu,” ujar Neni, Minggu (1/3/2026).
Kondisi ekonomi keluarga korban menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Neni berharap perusahaan-perusahaan besar di Kota Bontang dapat turut berpartisipasi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Ia secara khusus berharap dukungan dari perusahaan industri yang beroperasi di Bontang, termasuk PT Pupuk Kalimantan Timur, agar biaya perawatan korban dapat terbantu.
“Mudah-mudahan walaupun tidak memiliki BPJS, rumah sakit tetap memberikan pelayanan. Insya Allah pembiayaan bisa dibantu melalui CSR,” katanya.
Insiden ini kembali menyoroti kondisi pesisir Bontang yang merupakan habitat alami buaya muara. Permukiman warga yang berada di atas laut, seperti kawasan Selambai, dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap konflik antara manusia dan satwa liar.
Menanggapi keresahan masyarakat, Pemerintah Kota Bontang berencana berkoordinasi dengan Taman Nasional Kutai serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur untuk langkah penanganan lanjutan, termasuk kemungkinan penangkapan atau relokasi buaya secara aman.
“Kami akan berkoordinasi karena warga juga membutuhkan rasa aman. Di satu sisi itu habitat buaya, tetapi karena ada permukiman, maka perlu penanganan yang tepat,” jelas Neni.
Pemerintah kota juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap aktivitas anak-anak di wilayah pesisir.
Neni menegaskan larangan berenang di titik-titik rawan serangan buaya akan diperkuat melalui perangkat RT dan kelurahan, terutama di kawasan Selambai.
“Jangan berenang di laut Bontang, khususnya di daerah rawan. Ini akan terus kami sosialisasikan melalui RT dan lurah,” tegasnya.
Sementara itu, Lurah Lok Tuan, Supriadi, menyampaikan bahwa pihak kelurahan sebenarnya telah berulang kali mengingatkan warga agar melarang anak-anak bermain maupun berenang di laut, terutama saat kondisi air pasang.
“Kami selalu mengimbau masyarakat melalui ketua RT agar orang tua lebih waspada, karena kejadian serangan buaya sudah beberapa kali terjadi,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, pihak kelurahan juga akan berkoordinasi dengan BKSDA untuk menentukan langkah penanganan satwa liar di wilayah pesisir tersebut. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















