Rawit Hiyung, Cabai Terpedas di Indonesia asal Kalimantan

oleh -
Ilustrasi. Foto: iStoc

pranala.co – Hampir sebagian besar kuliner khas Indonesia identik dengan cita rasa pedas yang berasal dari cabai baik sebagai pelengkap dalam campuran bumbu, atau cabai utuh yang diolah khusus untuk membuat sambal sebagai teman hidangan yang tak boleh terlewat bagi sebagian besar masyarakat tanah air.

Saking populernya, tak jarang terdengar ungkapan “bukan orang Indonesia kalau tidak suka makanan pedas” yang nyatanya banyak disetujui oleh sebagian besar orang. Bicara soal cabai yang menjadi sumber utama dari keberadaan makanan pedas, salah satu bahan makanan satu ini nyatanya memiliki berbagai macam jenis dengan tingkat kepedasan yang berbeda.

Yang paling umum ditemui dan bisa didapat dengan mudah sudah pasti cabai merah atau hijau besar, cabai rawit, cabai keriting. Adapun jenis cabai yang dikenal memiliki tingkat kepedasan lebih tinggi di antaranya cabai gendot, cabai jalapeno, hingga cabai katokkon.

Namun di antara beberapa jenis cabai tersebut, nyatanya masih ada satu jenis yang diklaim sebagai cabai terpedas di Indonesia dengan tingkat kepedasan jauh dibanding cabai-cabai yang selama ini bisa didapat dengan mudah, yaitu cabai rawit hiyung.

Sesuai namanya, cabai ini hanya tumbuh di Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, Kalimantan Selatan. Bukan berarti jenis cabai ini tidak bisa ditanam di daerah lain, tentu bisa namun menurut keterangan petani sekitar kepedasannya akan jauh berkurang, bahkan cenderung tidak pedas.

Nyatanya, dari hasil penelitian Laboratorium Pengujian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen milik Kementerian Pertanian RI, cabai hiyung memiliki tingkat kepedasan tinggi dengan kandungan kapsaisin atau zat kimia yang menimbulkan rasa pedas mencapai 2333,05 ppm, atau setara dengan 17 kali lipat kepedasan dibanding cabai biasa.

Awal kemunculan dan berkah Cabai Hiyung bagi masyarakat sekitar

Melansir pantaugambut.id, kehadiran cabai hiyung pertama kali bermula dari seorang petani bernama Soebarjo yang membawa bibit cabai dari desa tetangga yaitu Desa Linuh, Kecamatan Bungur, Kabupaten Tapin pada tahun 1993.

Sebelumnya, wilayah Desa Hiyung yang memang didominasi oleh lahan gambut membuat wilayah tersebut kurang subur dan selalu gagal jika ditanami padi, terutama karena banyaknya hama yang muncul. Hingga pada akhirnya membuat masyarakat sekitar sempat pasrah dengan kondisi yang ada.

Abon cabai hiyung | pantaugambut.id

Namun, langkah Soebarjo yang membawa bibit cabai dari desa sebelah dan menanamnya di Desa Hiyung ternyata membuat cabai yang dihasilkan memiliki tingkat kepedasan yang lebih tinggi. Sejak saat itulah masyarakat setempat mulai berangsur-angsur beralih pekerjaan menjadi petani cabai.

Terus berkembang hingga saat ini, keberadaan cabai hiyung bahkan sampai membuat munculnya Asosiasi Cabai Rawit Hiyung di daerah tersebut. Ketua Asosiasi, Junaidi, bahkan membagikan berkah dan keuntungan besar yang didapatkan masyarakat sekitar berkat menjadi petani cabai hiyung.

Dijelaskan bahwa masyarakat bisa meraup 2 ton per masa panen sebanyak 30 kali dalam satu tahun. Adapun harga tertinggi cabai hiyung pernah mencapai Rp70 ribu/kg hingga Rp90 ribu/kg, terlebih harga di pasaran bisa jauh lebih tinggi dibandingkan harga tersebut.

No More Posts Available.

No more pages to load.