Cerita Pandemi: Deadline Pelanggan atau Batas Akhir Kumpul Tugas Sekolah Anak

oleh -
Darmawati menyempatkan menjahit menyelesaikan pesanan pelanggannya sembari menemani anaknya belajar daring. - Foto: Romi Ali

pranala.co – Di ujung timur langit kawasan Jalan Pelabuhan Tiga, RT 14, Kecamatan Bontang Selatan, Kota Bontang, Kalimantan Timur, sang surya mengintip di balik awan. jingganya semakin terang, disusul ayam berkokok mencari makan dari sudut kolong rumah satu ke rumah lainnya. Rumput-rumput masih basah karena embun sisa subuh tadi menambah kontras lukisan pagi itu.  

“Aliq, bangun sudah. Tugas mu itu sudah ada,” teriak Darmawati sambil mengayuh mesin jahitnya dengan kaki kiri. sesekali ia perhatikan layar smartphone-nya yang layarnya sudah retak. 

Perempuan usia 45 tahun ini, sudah tidak sempat menikmati pemandangan di teras rumahnya sambil menyiram kembang-kembang itu. Maklum,  ibu dari tiga orang anak itu memang sedang sibuk-sibuknya. Pesanan permak bajunya sedang banyak. Ditambah, anak dari sepupu dua kalinya akan menikah minggu depan. 

Tapi bukan hanya itu masalahnya hari itu. Cucian piringnya menumpuk, sarapan pagi belum dibuat. Anak pertamanya Romi Ali Darmawan, 24 tahun yang bekerja sebagai wartawan itu belum bangun. Heran juga harusnya kuli tinta sudah bangun pagi-pagi. 

“Berapa informasi yang diabaikan anak itu,” gumam Ibu doyan main facebook itu.

Anak keduanya juga masih tidur karena begadang setelah bermain gim. Namanya, Riyan Alferezi, usianya 22 tahun tapi kerjanya cuma bermain gim daring. Masih cari jati diri katanya. hampir semua lowongan pekerjaan sudah dijajakinya. Tapi tidak ada yang pas. Main gim kini jadi pekerjaanya. Tidak ada bantuan tenaga guru hari ini. Sementara, anaknya paling bungsu yang duduk di kelas tiga itu harus menjadi prioritas utamanya. 

Bagaimana tidak, grup sekolah yang diisi puluhan orang tua murid itu sudah ribut-ribut. Mata pelajaran bahasa Inggris akan memulai sekolah anaknya yang paling muda itu. Biasanya, jika sudah lelah membangunkan anaknya yang bungsu, tugas sekolah itu dia akan kerjakan sendiri. Kadang candaanya yang satir ikut nimbrung saat menasihati anaknya. 

“Nanti kalo pembagian rapot, nama mama cantumkan di situ. Kan mama yang ngerjain,” canda Darma menghibur dirinya kadang-kadang.  

Tapi ini bahasa Inggris. Latar belakang sekolahnya hanya SD, mana sempat dia belajar banya soal bahasa dari negara yang tidak pernah didatanginya itu. Mau minta tolong kepada suaminya, juga tidak mungkin. Mantan pacarnya 26 tahun lalu itu, juga lulusan SD. Pun pagi buta tadi, dia sudah berangkat kerja serabutan di lahan bakau milik perusahaan swasta itu. 

“Aliq bangun. tugasmu ini loh,” teriaknya lagi. 

Anaknya yang usia 8 tahun itu hanya mengerang, ikut ngomel. “Dulu saat belajar secara langsung dia cukup bersemangat. Pasti bangun pagi,” kata Darmawati. 

Dulu itu memang ada beberapa sentuhan yang membuat murid-murid cukup bersemangat ke sekolah, meski bukan pelajaran. Bertemu dengan teman-teman baru hingga belanja sarapan di kantin belakang jadi bayangan yang menyenangkan sebelum berangkat ke sekolah. Kini sebelum bangun, si anak pasti sudah membayangkan tugas-tugas yang menumpuk. Belum habis satu, satu lagi yang datang. 

Darmawati juga cukup kesal dengan keadaan itu. Tidak masalah jika mata pelajarannya adalah guru yang kreatif. Mengisi jam pelajaran dengan tanya jawab langsung atau hal lain. Tidak melulu soal tugas.

Misalnya bahasa inggris kali ini. Lebih baik matematika dia ajarkan kepada anaknya itu. Setidaknya dulu saat SD ia masih bisa hapal perkalian satu sampai sepuluh. Kini tugasnya harus mengisi kalimat kosong dengan pilihan kata yang ada di bawahnya. 

“Ini apa, kalimat yang lainnya aja saya enggak ngerti,” gumamnya. 

Kepalanya mulai pusing, kadang kalau begini 30 detik lagi air matanya tumpah. karena tak hanya tugas anaknya ini yang belum selesai. Cucian piring, sayur mentah yang belum di olah, dan iya jahitannya itu masih setengah dari selesai. Besok pelanggannya sudah akan menagih bajunya yang dipermak itu. 

Juni lalu, dia sebenarnya menghirup nafas lega. Kata berita, Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM)  akan segera berakhir. Pembelajaran tatap muka pun akan dilangsungkan. Tapi pagebluk pandemi Covid-19 yang tak tahu diri itu melonjak lagi. 

“Ah mau bagaimana lagi. Semoga tetangga tidak ada yang protes, pagi-pagi dengar ratapan Pembelajaran Tatap Muka,” keluhnnya. [*]

No More Posts Available.

No more pages to load.