DI TENGAH dorongan peningkatan literasi, kondisi perpustakaan daerah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) justru berbanding terbalik. Alih-alih menjadi ruang belajar yang nyaman, fasilitas yang ada dinilai belum layak—bahkan cenderung ditinggalkan.
Perpustakaan yang berada di bawah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kutim itu terletak di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Teluk Lingga, Kecamatan Sangatta Utara. Namun ruang yang tersedia jauh dari kata representatif.
Berada di lantai dua, ruangan tersebut hanya mampu menampung puluhan rak buku. Ribuan koleksi yang ada seakan kehilangan daya tarik karena kondisi ruang yang sempit dan pengap.
Suhu panas di dalam ruangan menjadi keluhan utama. Bagi pengunjung, membaca buku di tempat itu bukan pengalaman yang menyenangkan.
Kondisi fisik bangunan berdampak langsung pada minat kunjungan. Mahasiswa dan masyarakat umum disebut jarang datang.
Padahal, keberadaan perpustakaan menjadi salah satu indikator penting dalam peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).
Minimnya fasilitas membuat fungsi perpustakaan sebagai ruang belajar publik tidak berjalan optimal.
Keluhan datang dari pengguna langsung. Ayyub, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta, merasakan sendiri keterbatasan fasilitas tersebut.
“Tempatnya panas, bukunya sedikit, dan ruang membacanya juga tidak ada,” ujarnya.
Ia menilai, kondisi ini tertinggal dibandingkan daerah lain di Kalimantan Timur (Kaltim) yang telah memiliki perpustakaan lebih layak dan modern.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menyadari persoalan tersebut. Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman memastikan rencana pembangunan gedung perpustakaan baru sudah disiapkan.
Lokasi yang dipilih adalah bekas kantor Kejaksaan Negeri Kutai Timur. “Tahun ini sudah kami siapkan. Kantor kejari lama akan kami sulap menjadi gedung perpustakaan,” kata Bupati Ardiansyah.
Namun, rencana itu belum bisa segera direalisasikan. Proses tukar guling aset dengan pihak kejaksaan masih berlangsung.
Menurut Ardiansyah, perpindahan aset baru dapat dilakukan setelah Kejaksaan sepenuhnya menempati gedung baru dan memindahkan seluruh barang.
Dia menargetkan ke depan Kutim memiliki perpustakaan yang lebih representatif—tidak hanya sebagai tempat menyimpan buku, tetapi juga sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia. [HAF]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















