Lebih Intim dengan Joni Muslim; Merantau ke Bontang, Sejak Kecil Berjualan di Pasar Berbas dan Lok Tuan (2)

Joni Muslim saat masih remaja berkesempatan belajar dan bekerja di Nagano, Tokyo, Jepang pada 1997. (DOK PRIBADI)

SEJAK kepergian ayahnya, Umar. Ibunya harus berjuang sendiri menafkahi Joni dan kedua adiknya, Nurdiana dan Faisal yang juga anggota DPRD Bontang. Atau dikenal Faisal FBR. Entah bagaimana kehidupan di kampung Tanete Rilau, Barru kala itu. Sehingga ibunya memutuskan untuk hijrah ke Bontang, Kalimantan Timur bersama Joni dan ketiga adiknya. Tentu, dia dan adik-adik tidak dimintai pertimbangan, sebab masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

“Karena kami masih terlalu kecil untuk memahami apa terjadi. Kami hanya manut ketika diminta bersiap untuk berangkat merantau ke Bontang,” kata Joni.

Kota Bontang tak pernah terbayang kondisinya seperti apa. Bahkan letaknya pun juga. Maklum, dia bersama kedua adiknya dan ibu tak pernah menginjakkan kaki di tanah Kalimantan, apalagi Bontang. Sebuah kota asing. Memang, nama Kota Bontang sering dia dengar dari ayahya yang masih bolak-balik berdagang saat masih hidup. Namun kali ini Bontang akan  didatangi tanpa tujuan jelas. Siapa dan dimana tempat dituju. Betul-betul “mabbura mali’ ” kata orang Bugis. Beberapa keluarga tetap mengingatkan dan menahan ibu agar tidak usah berangkat. Namun, tekad ibu saya telah bulat untuk tetap meninggalkan kampung halaman.

Joni masih ingat betul di benaknya. Begitu  banyak air mata yang keluar dari keluarga yang bersedih karena kepergian kami. Di pelabuhan Awerange dengan mata yang basah dan sembab, ibu saya melangkah ke.atas kapal dengan membawa tiga anaknya. Perjalanan yang tentu berisiko, karena kapal yang  ditumpangi adalah kapal dari kayu seperti yang menggelamkan ayahnya. Namun tak ada pilhan lain, karena hanya ini alternatifnya dan ongkosnya murah.

Di atas kapal dalam hempasan ombak yang besar, kami bertiga bersama adik lebih banyak tidur. Dirinya tidak tahu berapa jam perjalan kapal ini hingga akhirnya bersandar di Pelabuhahn Tanjung Laut Bontang. Ketika terbangun, dia melihat ibu tetap duduk dan tidak mengantuk. Pandangan selalu ke laut. Entah mencari di mana tempat kapal ayah tenggelam. Atau membayangkan perjuangan apa yang harus dilakukan setelah tiba di Bontang.

Tak ada keluarga menjemput, karena memang tak ada sanak famili di Bontang. Sesampainya di Pelabuhan Tanjung Laut, ibu hanya terus melangkah. Kami bertiga masih kecil hanya bisa ikut mengikuti langkah ibu kemana. Joni, sebagai anak tertua harus ikut membawa barang bawaan dan menggandeng adiknya. “Entah itu tahun berapa, seingat saya masih SD. Adik-adik saya belum ada sekolah. Masih kecil semua. Kami juga bingung mau tinggal dimana,” kenang Joni.

Sejak menginjakkan kaki di Bontang, Joni bersama ibu, serta kedua adiknya tinggal di Berbas Pantai. Sembari berjualan, mereka sekaligus tidur di dalam pasar. Termasuk, Joni. Meski masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar (SD), sebagai anak tertua, dirinya membantu ibu berjualan.

Setahun berjualan di Berbas Pantai, musibah kebakaran datang. Jualan dan lapaknya ikut jadi arang. Nasib mereka kian sedih. Akibat lapak hangus, berimbas pemasukan keluarga Joni. Akhirnya, mereka sekeluarga pun memutuskan untuk pindah tinggal dan berjualan ke Pasar Lok Tuan, Kota Bontang.

Nah, selama tinggal di Pasar Lok Tuan, ibunya menyuruh Joni kecil bersekolah lagi, kelas 2 SD. Kebetulan juga, jarak antara sekolah dan pasar berdekatan. “Akhirnya, saya mendaftar di SD Rawa-Rawa, Lok Tuan . Waktu itu kepala sekolahnya Pak Johar. Saya langsung diterima di kelas tiga melanjutkan sekolah saya di kelas dua yang saya tinggalkan di Tanete Rilau,” jelas Joni.

Di sekolah ini, Joni cukup sibuk. Sebab, ketika pulang sekolah dia harus kembali ke pasar dan membantu ibu. Bukan itu saja, kerja hariannya juga bertambah. Berjalan dengan menjajakan jagung rebus terutama ke kompleks perumahan PT Badak. Hasil jualan ini digunakan meringankan beban ibunya membiayai sekolah. Rutinitas itu dia lakukan tiap hari. Sehingga membuat sekolahnya terabaikan.

“Untung saya masih bisa naik ke kelas 4 walaupun angka saya tidak terlalu bagus,” ujarnya.

Di kelas 4 SD, beban hidupnya kian bertambah. Kesibukan membantu ibu berdagang meningkat. Demikian pula tugas keliling menjajakan barang dagangan. Akibatnya, pelajaran di sekolah kerap tertinggal. Puncaknya ketika kenaikan kelas, dia dinyatakan tinggal kelas alias tetap harus mengulang di kelas 4 selama satu tahun.

“Saya betul-betul putus asa sehingga waktu itu sempat saya mengambil keputusan untuk berhenti sekolah,” tambah Joni.

Dalam keadaan galau karena tinggal kelas, dia bertemu dengan seorang teman dekat bernama Aminullah. Ketika mengetahui bahwa tinggal kelas, dia disarankan agar pindah sekolah ke SD 032 Inpres (Sekarang SDN 005 Bontang Utara), letaknya di kawasan Pos 7 Lok Tuan, Bontang. Sebab, dengan pindah sekolah, dia bisa tetap naik kelas.

Temannya, Aminullah menyarankan untuk menemui langsung kepala SD 032 Inpres kala itu, H Ibnu Abbas. Kebetulan Ibnu Abbas tinggal di Tanjung Limau. Demi bisa pindah sekolah, Joni dan Aminullah pun berangkat siang hari ke rumah Pak Abbas. Modalnya nekat.

Dalam perjalanan menuju rumah Pak Abbas memakai ketinting, Joni kecil disarankan Aminullah untuk mengganti namanya. Sebab, Joni kecil terdaftar di SD Rawa-Rawa bernama Sakka. “Saya namanya Sakka, biar enggak ketahuan data nama saya di SD Rawa-Rawa, makanya disuruh Aminullah ganti nama. Spontan dia suruh pakai nama Joni saja,” kenangnya tersenyum.

Singkat cerita, sesampainya ketemu Pak Abbas, Joni kecil dengan berani bertemu Abbas. Niatnya cuma satu, bisa naik kelas dan pindah sekolah. Sempat ditolak, namun dia ngotot dan akhirnya Pak Abbas luluh dan mengabulkan permintaanya. Alhasil, dia diterima bersekolah di SDN 032 Inpres Lok Tuan, kelas 5 SD.

Perubahan resmi nama Sakka menjadi Joni dimulai kala dirinya hendak didaftarkan sebagai peserta ujian akhir nasional. Karena tak memiliki data kelahiran lengkap dari orangtuanya, alhasil, nama Sakka sebelumnya berganti Joni. Sementara untuk tempat dan tanggal lahir mengikuti daftar kelahiran rekannya, Novi yang kebetulan berada di depan antrean mengisi data kelahiran untuk ijazah.

“Waktu ditanya nama dan data kelahiran, saya bingung. Orangtua saya juga tidak ada. Jadi saya bilang aja, tanggal lahir saya sama dengan Novi, Pak. Makanya sampai sekarang ijazah SD saya tertulis Joni, lahir di Barru, 10 Oktober 1975. Padahal itu bukan tanggal lahir saya. Saya juga enggak tahu kapan saya lahir. Enggak ingat,” katanya tertawa. (Selesai/red)

More Stories
Diminta Beli Gas Elpiji, Pria Pengangguran di Bontang Ini Aniaya Ibu Kandungnya