Pranala.co, BONTANG – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bontang terus bertambah. Hingga 15 September 2025, tercatat sudah ada 152 kasus, dengan dua di antaranya berujung kematian.
Kedua korban meninggal dunia berasal dari Kelurahan Kanaan dan Lok Tuan. Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Bahtiar Mabe, mengungkapkan, penyebabnya karena pasien terlambat dibawa ke rumah sakit.
“Pasien datang dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri. Ditambah lagi ada penyakit penyerta seperti diabetes yang tidak terkontrol dan tipus,” jelas Bahtiar, Senin (15/9/2025).
Bahtiar mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan gejala demam yang bisa mengarah pada DBD. Deteksi dini sangat menentukan keberhasilan penanganan.
“Semakin cepat pasien mendapat perawatan, semakin besar peluang sembuh,” tegasnya.
Data Diskes Bontang menunjukkan, jumlah kasus DBD di Bontang terus mengalami kenaikan. Pada akhir Agustus 2025, tercatat 144 kasus. Artinya, hanya dalam setengah bulan terakhir terjadi penambahan 9 kasus baru.
Rinciannya: 4 kasus di Kelurahan Tanjung Laut Indah; 3 kasus di Berebas Tengah; 1 kasus di Loktuan; 1 kasus di Tanjung Laut.
Dari seluruh kasus yang ditangani, satu pasien bahkan mengalami kondisi serius hingga berkembang menjadi dengue shock syndrome (DSS).
Melihat tren kenaikan ini, Dinas Kesehatan Bontang kembali mengingatkan pentingnya PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Masyarakat diminta aktif melakukan 3M Plus: menguras, menutup, mengubur barang bekas, serta mencegah gigitan nyamuk dengan cara lain.
“DBD bisa dicegah kalau lingkungan kita bersih. Jangan tunggu ada korban baru kita bergerak,” jelas Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Bahtiar Mabe. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















