Samarinda, PRANALA.CO – Sebanyak 18 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kutai Kartanegara (Kukar) menandatangani surat komitmen kerjasama usaha (SKKU) dengan perusahaan-perusahaan raksasa dari sektor tambang, mineral, dan sawit. Ya, akhirnya tangan UMKM dan korporasi besar itu berjabat erat. Bukan lagi sekadar lewat CSR simbolik.
“Ini bagian dari Jospoll,” kata Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, Kamis, 17 April 2025. Sebuah nama program yang terdengar seperti jargon, tapi sebenarnya menyimpan visi besar: Jemput Investasi, Olah Potensi Lokal.
Menurut Seno, targetnya bukan main: menghadirkan 1.000 UMKM bermitra dengan usaha besar dalam waktu satu tahun saja. Kukar menjadi ladang uji coba. Dan hasilnya, menjanjikan. Sangat.
“Kalau sekarang baru 116 UMKM saja sudah menghasilkan nilai kemitraan Rp183 miliar, bayangkan kalau kita punya 1.000,” ujar Seno dengan nada optimistis.
Seno Aji bahkan membayangkan jika dalam lima tahun ke depan APBD Kaltim bisa menembus angka Rp40 triliun. Ia yakin, kemiskinan yang kini masih di angka 6 persen akan turun drastis, bisa menyentuh bahkan di bawah dua persen.
“Kalau ekonomi kita tumbuh 8 persen per tahun, kita bisa ke sana,” katanya.
Dulu, UMKM dianggap harus berdikari. Jalan sendiri. Naik kelas sendiri. Tapi kini, paradigma itu berubah. UMKM tak perlu malu menggandeng perusahaan besar. Justru kemitraan inilah yang jadi kunci pertumbuhan sehat.
Pemerintah hanya memfasilitasi. Tapi kerja nyatanya ada di tangan pelaku usaha. Dan yang lebih penting: niat baik.
Program Jospoll ini memang tidak melulu tentang izin usaha atau pertemuan formal. Tapi tentang membuka kanal kolaborasi. Menjodohkan usaha kecil dengan induk semangnya. Menyatukan visi pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
“Kalau bapak ibu di sini ikut andil membesarkan UMKM, maka andil itu akan kembali sebagai berkah. Untuk ekonomi. Untuk rakyat. Dan untuk Kalimantan Timur sendiri.”
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kukar, Alfian Noor, menyebut capaian 2025 ini memang tak main-main. Nilai Rp183,2 miliar itu diraih hanya dari 19 usaha besar dan 116 UMKM. Angka yang mengindikasikan bahwa kemitraan bukan sekadar retorika.
Tapi tantangan berikutnya lebih besar: mengajak lebih banyak usaha besar untuk peduli dan membuka pintu kemitraan. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















