Pranala.co, SANGATTA – Jalan nasional poros Sangatta–Bengalon, Kutai Timur (Kutim) kembali menguji kesabaran pengguna jalan. Di sejumlah titik, aspal tergerus. Tanah ambles. Longsor mengintai setiap waktu.
Ruas ini bukan jalan biasa. Inilah jalur utama penghubung Kutai Timur menuju Kalimantan Utara. Setiap hari dilalui truk logistik, kendaraan pribadi, hingga angkutan umum. Saat jam sibuk, antrean mengular tak terelakkan.
Sistem buka-tutup pun menjadi pilihan terakhir. Manual. Bergantian. Pengendara saling menunggu. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) memastikan kondisi ini tidak dibiarkan berlarut. Tahun 2026, penanganan permanen akan dilakukan.
“Ini aset jalan nasional. Sudah kami usulkan dan disetujui. Penanganannya masuk prioritas,” kata Kepala Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah II Kalimantan Timur, Viasmudji Bitticaca, saat dihubungi di Sangatta, Selasa (20/1).
Pada tahap awal, anggaran sekira Rp5 miliar disiapkan. Nilai itu masih estimasi. Proses kontrak belum berjalan. Dana tersebut akan difokuskan pada titik-titik longsoran paling parah. Biaya penanganan diperkirakan berkisar Rp100 juta hingga Rp150 juta per meter.
“Untuk prioritas, panjang longsoran yang ditangani sekitar 50 meter di satu titik utama,” ujarnya.
Namun persoalan di ruas ini tidak hanya satu. Dari Sangatta hingga Simpang Perdau, tercatat ada sekitar 16 titik rawan longsor. Tingkat kerusakannya beragam. Ada yang masih ringan. Ada pula yang sudah menggerus setengah badan jalan.
Sambil menunggu pekerjaan utama dimulai, BBPJN tak tinggal diam. Penanganan sementara terus dilakukan. Bronjong dipasang. Sandbag ditata. Semua demi menahan longsor agar tidak meluas. Langkah ini diambil agar akses tetap terbuka. Lalu lintas tidak terputus total.
“Yang terpenting, jalan masih bisa dilalui. Meski harus satu arah dengan sistem buka-tutup,” pungkas Viasmudji. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















