SANGATTA, Pranala.co – Awal 2026 membuka catatan kelam di sektor pertambangan Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim). Dua insiden kecelakaan kerja dalam tempo dua bulan menewaskan pekerja di area operasional berbeda.
Merespons darurat keselamatan ini, Ketua DPRD Kutim, Jimmi, mengeluarkan peringatan keras: disiplin standar keselamatan harus ditingkatkan, atau sanksi Kementerian ESDM mengintai.
Insiden terbaru menghantam PT Indexim Coalindo pada Rabu (4/3/2026). Seorang pekerja dinyatakan meninggal dunia setelah terseret arus air di lokasi tambang. Kejadian ini terjadi kurang dari dua bulan setelah kecelakaan serupa di PT Kaltim Prima Coal (KPC) Sabtu (10/1/2026) yang juga merenggut nyawa seorang pekerja.
Dua perusahaan berbeda, satu nasib tragis yang sama. Jimmi melihat pola ini sebagai sinyal bahaya sistemik, bukan sekadar kecelakaan individual. Jimmi tidak ragu-ragu mengusulkan solusi radikal: kembalikan standar keselamatan era awal pengelolaan tambang.
“Kita berharap seperti awal-awal buka, ketika perusahaan tambang ini masih ditangani orang asing yang tingkat disiplinnya tinggi. Kita berharap itu bisa diaplikasikan kembali tingkat kedisiplinan,” tegasnya.
Pernyataan ini mengindikasikan penurunan kualitas pengawasan internal yang terjadi seiring bergesernya tata kelola operasional dari tangan asing ke lokal. Bagi Jimmi, nostalgia bukan soal kebangsaan, melainkan soal keselamatan nyawa.
Selain disiplin operasional, Jimmi menyoroti parameter teknis: safety factor. “Safety faktornya yang mesti dinaikkan lagi. Kemarin ada sekitar 1,5 dari standar yang ada. Safety faktornya kalau bisa dua atau dua ke atas,” pungkasnya.
Safety factor—rasio antara kekuatan material atau sistem terhadap beban yang diterapkan—menjadi indikator kunci toleransi risiko. Kenaikan dari 1,5 ke 2 berarti peningkatan cadangan keamanan 33 persen, sebuah investasi mahal yang Jimmi anggap lebih murah daripada nyawa manusia.
Jimmi mengingatkan bahwa pelanggaran standar keselamatan bukan lagi domain internal perusahaan. “Ini bukan sesuatu yang harus diabaikan. Ini yang perlu harus ditingkatkan kedisiplinannya,” tegasnya. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















